TANGGA JAHANNAM

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ada sebuah ungkapan yang terdengar kasar, tetapi terasa begitu tepat untuk menggambarkan kehidupan hari ini: tangga jahanam. Sebuah tangga yang seharusnya menjadi jalan menuju tempat lebih tinggi, tetapi justru membuat setiap langkah terasa menyiksa. Anak tangganya terlalu tinggi, pijakannya sempit, kemiringannya curam, dan pegangan yang seharusnya menjadi penopang justru tidak tersedia. Untuk menaikinya, seseorang harus mengerahkan seluruh tenaga. Untuk menuruninya, ia harus menahan tubuh agar tidak tergelincir. Begitulah gambaran kehidupan yang kini dirasakan banyak orang: terus bergerak dan bekerja keras, tetapi kesejahteraan terasa semakin jauh dari jangkauan.

Kehidupan semestinya memberi ruang bagi manusia untuk tumbuh, berkembang, dan menikmati hasil jerih payahnya. Bekerja keras seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada kehidupan yang layak. Namun, kenyataan hari ini sering kali berjalan berlawanan arah. Orang berangkat pagi, pulang petang, menghabiskan tenaga di tempat kerja, tetapi penghasilan yang dibawa pulang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan, bagi sebagian keluarga, penghasilan sebulan belum tentu mampu bertahan hingga akhir bulan. Uang yang diterima terasa seperti air dalam wadah bocor; sebanyak apa pun diisi, selalu ada yang hilang sebelum sempat dinikmati.

Harga kebutuhan pokok terus menjadi sumber kecemasan. Beras, minyak goreng, telur, sayuran, dan berbagai kebutuhan rumah tangga harus dibeli dengan uang yang nilainya terasa semakin kecil. Ketika harga naik, masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan diri. Porsi belanja dikurangi, kualitas makanan diturunkan, keinginan ditunda, dan kebutuhan penting terpaksa disisihkan. Sesuatu yang dahulu dianggap biasa, seperti membeli pakaian baru, memperbaiki rumah, atau mengajak keluarga makan di luar, kini berubah menjadi kemewahan yang harus dipikirkan berkali-kali. Memenuhi kebutuhan dasar pun membutuhkan perhitungan yang semakin rumit.

Di tengah keadaan itu, daya beli masyarakat perlahan tergerus. Persoalannya bukan semata-mata karena harga barang semakin mahal, melainkan juga karena penghasilan tidak bertambah secepat kenaikan biaya hidup. Pendapatan mungkin tetap, tetapi kemampuan membeli terus menyusut. Uang yang dahulu cukup untuk memenuhi sepuluh kebutuhan, kini mungkin hanya sanggup menutup tujuh atau delapan kebutuhan. Seseorang masih memiliki pekerjaan dan menerima gaji setiap bulan, tetapi semakin kesulitan mempertahankan taraf hidupnya. Ia tidak kehilangan pekerjaan, tetapi perlahan kehilangan kemampuan menikmati hasil pekerjaannya sendiri.

Tangga jahanam itu semakin terasa ketika kebutuhan hidup tidak hanya berkaitan dengan makanan. Biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan transportasi menyita sebagian besar pendapatan. Keluarga harus memilih antara membayar kebutuhan yang satu dan menunda kebutuhan lainnya. Menabung menjadi semakin sulit, apalagi mempersiapkan masa depan. Satu anggota keluarga jatuh sakit, pekerjaan terhenti beberapa hari, atau kendaraan rusak, dan seluruh perencanaan keuangan bisa berantakan. Kehidupan yang seharusnya memberikan rasa aman justru dipenuhi kecemasan menghadapi kemungkinan yang tidak terduga.

Tekanan ekonomi juga tidak selalu terlihat dari luar. Banyak orang tetap tersenyum, berangkat bekerja, dan menjalankan kewajibannya seperti biasa. Padahal, di dalam pikirannya tersimpan sederet kekhawatiran. Tagihan menunggu, kebutuhan anak harus dipenuhi, cicilan harus dibayar, sementara penghasilan berikutnya belum tentu cukup untuk menyelesaikan semuanya. Ada yang terpaksa berutang bukan untuk membeli barang mewah, melainkan sekadar memastikan keluarganya bisa makan. Ada pula yang mengambil pekerjaan tambahan dan mengorbankan waktu bersama keluarga karena tidak memiliki pilihan lain. Hidup bukan lagi sekadar tentang bagaimana menjadi lebih baik, melainkan tentang bagaimana agar tidak semakin terpuruk.

Pada situasi seperti ini, meminta masyarakat bersabar dan bekerja lebih keras bukanlah jawaban yang cukup. Persoalannya tidak selalu terletak pada kemauan seseorang untuk berusaha. Tenaga memiliki batas, waktu memiliki batas, dan kesempatan tidak tersedia secara merata. Seseorang dapat bekerja sekeras mungkin, tetapi jika biaya hidup terus meningkat, upah tidak memadai, dan lapangan pekerjaan terbatas, langkahnya tetap terasa berat. Tidak adil apabila seluruh beban kesulitan diletakkan di pundak individu, seolah-olah kesulitan ekonomi semata-mata merupakan akibat kurangnya kerja keras.

Tangga yang baik dirancang dengan ukuran anak tangga yang wajar, pijakan yang cukup lebar, kemiringan yang aman, dan pegangan yang kuat. Prinsip yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Jalan menuju kesejahteraan tidak boleh dibuat terlalu curam sehingga hanya mereka yang memiliki modal dan kesempatan besar yang mampu mendakinya. Masyarakat membutuhkan pekerjaan yang layak, pendapatan yang sebanding dengan biaya hidup, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, serta pelayanan pendidikan dan kesehatan yang tidak menguras keuangan keluarga.

Ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi atau angka-angka dalam laporan. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat dapat makan dengan layak, menyekolahkan anak tanpa kecemasan, berobat ketika sakit, memiliki tempat tinggal yang aman, dan menyisihkan penghasilan untuk masa depan. Kemajuan yang tidak terasa di meja makan rakyat akan kehilangan maknanya bagi mereka yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Rakyat tidak meminta tangga yang selalu menurun atau kehidupan tanpa tantangan. Mereka hanya membutuhkan tangga yang masuk akal untuk didaki, dengan anak tangga yang tidak terlalu tinggi dan pijakan yang tidak sewaktu-waktu menghilang. Mereka ingin kerja keras menghasilkan kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar memperpanjang napas untuk bertahan hingga hari esok. Sebab, jika setiap langkah hanya menghasilkan kelelahan, setiap kenaikan penghasilan selalu dikejar kenaikan harga, dan masa depan semakin jauh meskipun tenaga telah habis dikerahkan, kehidupan akan menyerupai pendakian tanpa puncak. Rakyat terus melangkah dengan sisa tenaga yang ada, berharap menemukan tempat untuk beristirahat, sementara di hadapan mereka, tangga jahanam itu masih menjulang curam.

Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)