Oleh: Majid Lintang
Nama wartawan itu Bayu Santoso.
Cita-citanya sederhana: meliput dengan tenang, pulang sebelum magrib, dan tidak dikejar siapa pun—kecuali deadline.
Sayangnya, semesta punya selera humor.
Semua bermula di hari yang terlihat normal.
Bayu berdiri di depan kantor, memegang buku catatan, menunggu “berita datang”—sebuah kebiasaan buruk yang ia sebut strategi.
“Berita itu seperti jodoh,” katanya sok bijak.
“Kalau dikejar, capek. Kalau ditunggu, kadang datang sendiri.”
Temannya, Ragil, hanya mengunyah gorengan.
“Kalau tidak datang?”
Bayu menatap jauh.
“Kita pura-pura sakit.”
Tiba-tiba…
Seorang bapak-bapak berlari ke arahnya.
“MAS! MAS! LIPUT AKU!”
Bayu kaget.
“Kenapa, Pak?”
“Saya baru nemu sendal hilang saya setelah 3 tahun!”
Bayu berkedip.
“…itu bukan berita, Pak. Itu mukjizat pribadi.”
Belum selesai…
Datang lagi seorang ibu-ibu.
“Mas wartawan! Tolong liput! Kucing saya bisa buka kulkas sendiri!”
Bayu mundur pelan.
“Bu… itu… lebih ke masalah keamanan dapur…”
Dalam waktu lima menit…
kerumunan terbentuk.
Semua orang teriak:
“LIPUT AKU!”
“SAYA LEBIH MENARIK!”
“SAYA PUNYA DRAMA KELUARGA!”
Bayu mulai panik.
“Kenapa mereka… ke saya?”
Ragil santai.
“Mungkin kamu kelihatan murah.”
Bayu lari.
Dan… orang-orang itu ikut lari.
Ia belok ke gang sempit.
Mereka ikut.
Ia lompat selokan.
Mereka ikut (dengan sedikit drama terpeleset).
Ia masuk warung.
Penjual warung langsung teriak:
“Mas wartawan! Liput warung saya! Indomie saya filosofis!”
Bayu keluar lagi.
Sekarang bukan cuma warga biasa.
Tukang ojek mengejar sambil teriak:
“Liput saya! Saya hafal jalan tapi tetap nyasar!”
Anak kecil berlari:
“Aku juara 3 lomba makan kerupuk! Minimal feature dong!”
Bahkan ada pria misterius berbisik sambil ikut sprint:
“Saya tahu sesuatu… tapi saya juga tidak tahu apa…”
Bayu terengah-engah.
“Ini bukan kerja… ini marathon sosial!”
Ia mencoba sembunyi di kantor polisi.
Begitu masuk…
Seorang polisi berdiri.
“Mas wartawan, pas banget. Liput saya. Saya baru berhasil parkir lurus.”
Bayu menatap kosong.
“…saya menyerah.”
Tapi puncaknya terjadi saat ia masuk ke sebuah taman.
Ia pikir aman.
Sunyi.
Sepi.
Tenang.
Ia duduk, menarik napas panjang.
“Ah… akhirnya tidak ada berita…”
Tiba-tiba…
Seluruh taman berdiri.
Serentak.
Seolah dikomando.
Dan berteriak:
“LIPUT AKU!!!”
Ternyata…
Entah bagaimana…
Viral di media sosial:
“Wartawan yang mau meliput siapa saja tanpa syarat!”
Padahal Bayu tidak pernah bilang begitu.
Tapi internet tidak butuh kebenaran.
Cukup caption dan niat baik yang salah arah.
Akhirnya, Bayu ditemukan oleh tim redaksi.
Ia terduduk di trotoar, dikelilingi orang-orang yang masih menawarkan cerita.
Pak Damar mendekat.
“Bayu… kamu kenapa?”
Bayu menatap dengan mata kosong.
“Pak… selama ini kita salah…”
“Maksudnya?”
“Kita tidak pernah mengejar berita…”
“Terus?”
Bayu menunjuk kerumunan.
“…berita itu… hanya butuh tahu alamat kita.”
Keesokan harinya…
Di halaman depan koran mereka, muncul headline besar:
“Fenomena Baru: Berita Mengejar Wartawan, Bukan Sebaliknya”
Ditulis oleh: Bayu Santoso
(dengan kontribusi 327 orang yang berlari di belakangnya)
Sejak itu, Bayu mengubah strateginya.
Ia tidak lagi keluar mencari berita.
Ia hanya duduk di kantor.
Menutup pintu.
Mengunci jendela.
Dan berbisik pelan:
“Kalau ada berita… kirim email saja.”
Tapi dari luar… masih terdengar suara:
“MAS! EMAIL SAYA MASUK SPAM! LIPUT AKU AJA LANGSUNG!”
Tulis Komentar