KATEK AGUK

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayat 

Di sebuah warung kopi sederhana di sudut kota, dua orang kawan lama duduk berhadapan. Meja kayu yang sudah sedikit usang itu menjadi saksi bisu berbagai cerita yang datang dan pergi. Asap kopi hitam mengepul pelan, menyatu dengan udara sore yang mulai dingin. Di sekitar mereka, suara obrolan lain terdengar samar, tetapi percakapan keduanya terasa lebih dalam, seolah memikul beban yang tidak ringan.

“Banyak nian pejabat mak ini ari, katek aguk,” ujar yang satu, sambil mengaduk kopi tanpa benar-benar meminumnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia bukan sekadar ungkapan kesal sesaat, melainkan rangkuman dari kekecewaan panjang yang perlahan mengendap. “Katek aguk” terjemahan bebasnya kira kira tidak ada yang bagus, walaupun tidak tepat benar; menjadi cara paling jujur untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan. Kawannya mengangkat kepala, menatap sejenak, lalu mengangguk pelan. 

 “Iyo, rasonyo makin ke sini makin susah nak percayo,” jawabnya lirih.

Percakapan itu pun mengalir, seperti air sungai Musi yang tak lagi jernih. Mereka mengingat kembali berbagai janji yang pernah terdengar begitu meyakinkan. Kata-kata yang dulu disampaikan dengan penuh semangat, seakan membawa harapan baru bagi banyak orang. Namun, seiring waktu, janji-janji itu perlahan memudar, digantikan oleh kenyataan yang jauh dari harapan.

“Dulu kito bangga,” lanjut yang pertama. “Tiap ado yang maju, kito dukung. Berharap nian kalo keadaan biso berubah.”

Harapan memang selalu datang di awal. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa setiap orang yang diberi amanah akan berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi harapan itu juga yang paling sering terluka ketika kenyataan tidak sejalan. Di warung kopi itu, mereka tidak sedang berbicara dengan nada marah. Lebih tepatnya, ada nada lelah yang terselip di setiap kalimat. Lelah berharap, lelah menunggu, dan lelah melihat hal yang sama terulang kembali.

“Kadang kito mikir,” kata yang kedua, “apo memang susah nian nak jujur dalam jabatan itu?”

Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban pasti. Mereka bukan orang yang mengerti seluk-beluk kekuasaan secara mendalam, tetapi sebagai bagian dari masyarakat, mereka merasakan dampaknya secara langsung. Harga kebutuhan yang naik, layanan yang tidak maksimal, dan kebijakan yang sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Jabatan tu harusnyo amanah,” sambung yang pertama. “Bukan tempat cari enak bae.”


Kata “amanah” menjadi kunci dalam percakapan mereka. Sebuah konsep yang sederhana, tetapi berat untuk dijalankan. Amanah berarti tanggung jawab, kejujuran, dan kesediaan untuk mendahulukan kepentingan orang banyak. Namun, dalam kenyataannya, tidak semua orang mampu memegangnya dengan baik.

Istilah “katek aguk” yang mereka gunakan sebenarnya bukan sekadar kritik kasar. Ia adalah bentuk kejujuran yang lahir dari pengalaman. Bagi mereka, kata itu menjadi semacam ringkasan dari berbagai kekecewaan yang sulit dijelaskan satu per satu. Di sisi lain, mereka juga menyadari bahwa tidak semua hal bisa dilihat secara hitam dan putih. Mungkin ada di antara para pejabat yang benar-benar bekerja dengan baik, tetapi tertutup oleh banyaknya hal negatif yang lebih mencolok.

“Pasti ado jugo yang bagus,” ujar yang kedua, mencoba lebih adil. “Cuma mungkin kalah banyak samo yang bikin kecewa.”

Yang pertama tersenyum tipis. “Iyo, tapi kalo yang bagus tu dikit nian, susah jugo nak kejingokan.”

Percakapan mereka menunjukkan bahwa kritik tidak selalu berarti menolak sepenuhnya. Ada usaha untuk tetap melihat kemungkinan baik, meski kecil. Namun, realitas yang mereka rasakan membuat pandangan positif itu sulit untuk bertahan lama. 

Warung kopi semakin sepi. Beberapa pengunjung mulai pulang, menyisakan suara sendok yang sesekali beradu dengan gelas. Waktu terus berjalan, tetapi obrolan mereka belum juga usai.

“Mungkin masalahnyo bukan Cuma wongnyo,” kata yang kedua tiba-tiba. “Biso jadi sistemnyo jugo.”

Pendapat itu membuka sudut pandang baru. Bahwa persoalan tidak selalu terletak pada individu, tetapi juga pada lingkungan dan sistem yang membentuknya. Jika sistem tidak mendukung kejujuran dan kerja keras, maka orang yang baik sekalipun bisa kesulitan untuk bertahan. Namun, di balik semua itu, mereka sepakat bahwa perubahan tetap mungkin terjadi. Tidak mudah, tidak cepat, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.

“Kito ni cuma wong kecik,” ujar yang pertama sambil tersenyum pahit. “Cuma biso ngomong di sini.”

“Jangan salah,” jawab kawannya. “Dari omongan-omongan kecik inilah kadang perubahan mulai.”

Kalimat itu membawa sedikit harapan. Bahwa suara kecil tetap memiliki arti. Bahwa percakapan sederhana di warung kopi bisa menjadi bagian dari kesadaran yang lebih besar.

Istilah “katek aguk” dalam percakapan mereka akhirnya terasa lebih dari sekadar keluhan. Ia menjadi cermin. Cermin bagi keadaan yang ada, sekaligus cermin bagi harapan yang belum tercapai.


Mereka pun terdiam sejenak, menikmati sisa kopi yang mulai dingin. Di luar, langit perlahan berubah warna, menandakan hari yang hampir berakhir.

“Semoga bae ke depan berubah,” kata yang pertama akhirnya.

“Iyo,” sahut yang kedua. “Jangan sampai selamonyo katek aguk.”

Harapan itu mungkin sederhana, tetapi cukup untuk menjaga mereka tetap peduli. Karena selama masih ada harapan, masih ada alasan untuk terus memperhatikan, mengkritik, dan berharap pada perubahan.

Warung kopi itu akhirnya benar-benar sepi. Mereka berdua bangkit dari kursi, meninggalkan meja yang tadi menjadi tempat berbagi keresahan. Percakapan mereka mungkin selesai, tetapi maknanya masih hidup: di dalam pikiran, di dalam hati, dan mungkin juga di dalam percakapan-percakapan lain di tempat yang berbeda. Dan di antara semua itu, satu hal tetap jelas: “katek aguk” bukan akhir dari segalanya. Ia adalah tanda bahwa masyarakat masih melihat, masih menilai, dan masih berharap.

Salam “Katek Aguk”

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)