KRITIK DAN SOLUSI

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Menjelang senja piranti sosial berdenting penanda ada pesan masuk. Ternyata ada kiriman vedio dari seorang penulis dan jurnalis gamben di daerah ini yang mendedah tentang: apakah kritik harus disertai solusi. Tentu jawabannya tidak sesederhana menyajikan hidangan nasi padang. Beliau berpendapat bahwa kritik tidak harus disertai solusi, tentu dengan contoh yang sangat gamblang. Tulisan ini mencoba melihatnya dari kaca mata filsafat; tentu itupun bukan dari sudut pandang aliran tertentu. Guna mendapatkan informasi cerdas kita masuki relung relung beberapa aliran agar pemikiran kita mengalir bagai riak menuju pantai.

Ditinjau dari sejarah filsafat, hubungan antara kritik dan solusi ternyata jauh lebih kompleks. Tidak semua filsuf berpendapat bahwa kritik harus selalu menghasilkan alternatif atau pemecahan masalah. Sebagian memandang kritik sebagai kegiatan intelektual yang memiliki nilai tersendiri, sedangkan sebagian lainnya menilai bahwa kritik yang baik seharusnya berorientasi pada perbaikan. Karena itu, pertanyaan apakah kritik harus bersolusi sesungguhnya merupakan perdebatan lama mengenai fungsi berpikir kritis itu sendiri.

Salah satu contoh paling awal dapat ditemukan pada sosok Socrates. Dalam berbagai dialog yang ditulis oleh muridnya yang cerdas bernama Plato, Socrates dikenal gemar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggoyahkan keyakinan lawan bicaranya. Ketika seseorang mengaku memahami keadilan, keberanian, atau kebajikan, Socrates akan mengajukan pertanyaan berlapis hingga terlihat bahwa definisi yang diberikan ternyata penuh kontradiksi. Yang menarik, Socrates sering kali tidak menawarkan jawaban akhir. Ia justru membiarkan percakapan berakhir dalam keadaan aporia, yaitu kebingungan intelektual. Dari sini terlihat bahwa bagi Socrates, fungsi kritik bukan pertama-tama memberikan solusi, melainkan membebaskan manusia dari keyakinan palsu. Mengetahui bahwa kita tidak tahu dianggap sebagai kemajuan yang penting sebelum mencari jawaban yang benar.

Semangat serupa terlihat dalam filsafat Immanuel Kant. Kata “kritik” bahkan menjadi inti proyek intelektualnya. Dalam karya-karyanya, Kant tidak berusaha langsung menjawab seluruh persoalan metafisika, melainkan menguji terlebih dahulu kemampuan dan batas akal manusia. Baginya, kritik adalah upaya menyelidiki syarat-syarat yang membuat pengetahuan menjadi mungkin. Kritik berfungsi sebagai pengadilan akal, yakni memeriksa klaim-klaim yang diajukan manusia sebelum klaim tersebut diterima sebagai benar. Dalam pengertian ini, kritik merupakan proses evaluasi, bukan semata-mata pencarian solusi. Sebuah kritik dapat berhasil jika ia menunjukkan kelemahan suatu argumen, meskipun belum mampu menggantikannya dengan teori yang lebih baik.

Pandangan yang lebih radikal muncul pada Friedrich Nietzsche. Nietzsche menghabiskan sebagian besar hidup intelektualnya untuk mengkritik nilai-nilai moral, agama, dan kebudayaan Barat. Ia berusaha menunjukkan bahwa banyak nilai yang dianggap universal sebenarnya lahir dari kondisi sejarah tertentu dan sering kali berakar pada kepentingan kekuasaan. Kritik Nietzsche tidak selalu berakhir pada rancangan sistem baru yang lengkap. Banyak pembacanya bahkan menilai bahwa ia lebih piawai menghancurkan daripada membangun. Namun justru di situlah letak pentingnya. Nietzsche menganggap bahwa sebelum membangun sesuatu yang baru, manusia harus berani mempertanyakan fondasi lama yang selama ini diterima tanpa kritik. Dalam pandangan seperti ini, kritik tidak membutuhkan legitimasi dari keberadaan solusi. Membongkar ilusi sudah merupakan pekerjaan yang berharga.

Gagasan bahwa kritik tidak wajib memberikan solusi juga ditemukan dalam pemikiran Theodor W. Adorno dari tradisi teori kritis. Adorno curiga terhadap tuntutan yang mengharuskan setiap kritik segera menawarkan jawaban praktis. Menurutnya, masyarakat modern sering kali begitu kompleks sehingga solusi yang terlalu cepat justru berisiko menyederhanakan masalah. Ia pernah menunjukkan bahwa keinginan untuk selalu mendapatkan solusi dapat berubah menjadi tekanan ideologis yang membuat kritik kehilangan ketajamannya. Dalam konteks tertentu, tugas pemikir adalah mempertahankan kemampuan untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah, meskipun belum diketahui secara pasti bagaimana memperbaikinya. Kritik, dalam arti ini, berfungsi sebagai penjaga kesadaran.

Argumen para filsuf tersebut dapat dipahami melalui analogi sederhana. Seorang ilmuwan mungkin berhasil membuktikan bahwa teori tertentu keliru tanpa harus langsung menemukan teori penggantinya. Seorang dokter dapat mendiagnosis penyakit dengan tepat meskipun obat yang efektif belum tersedia. Diagnosa tetap bernilai karena ia mengungkap keadaan yang sebenarnya. Dengan logika yang sama, seseorang dapat menunjukkan kelemahan suatu kebijakan, gagasan, atau institusi tanpa memiliki kewajiban intelektual untuk merancang alternatif yang lengkap.

Meskipun demikian, tidak semua filsuf sepakat dengan posisi tersebut. Dalam tradisi pragmatisme Amerika, John Dewey menekankan bahwa pemikiran manusia pada dasarnya bertujuan menyelesaikan masalah yang muncul dalam kehidupan. Kritik memang penting, tetapi nilainya akan lebih besar jika membantu masyarakat menemukan cara bertindak yang lebih baik. Bagi Dewey, filsafat tidak seharusnya berhenti pada pembongkaran kesalahan. Pemikiran yang baik harus membuka kemungkinan perbaikan dan mendorong eksperimen sosial yang menghasilkan kemajuan nyata.

Pandangan yang relatif dekat dapat ditemukan pada Karl Popper. Popper terkenal karena menempatkan kritik sebagai jantung perkembangan ilmu pengetahuan. Teori ilmiah maju karena terus-menerus diuji dan dikritik. Namun kritik tersebut bukan tujuan akhir. Kritik berguna karena membantu manusia menemukan teori yang lebih baik. Dalam bidang politik, Popper juga menolak perubahan revolusioner yang besar dan lebih mendukung perbaikan bertahap. Kelemahan suatu sistem perlu dikritik agar dapat diperbaiki melalui solusi-solusi yang konkret dan terukur. Dengan demikian, kritik dan solusi dipandang sebagai bagian dari proses yang sama.

Pendekatan konstruktif juga tampak pada pemikiran Jürgen Habermas. Habermas melihat kritik sebagai sarana emansipasi sosial. Kritik terhadap ketidakadilan, dominasi, atau distorsi komunikasi seharusnya membantu manusia mencapai kondisi masyarakat yang lebih rasional dan demokratis. Karena itu, kritik idealnya tidak berhenti pada penolakan. Ia perlu mengarahkan diskusi menuju kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih baik. Dalam perspektif ini, kritik memperoleh maknanya justru karena berkontribusi pada transformasi sosial.

Dari perdebatan tersebut tampak bahwa filsafat tidak memberikan jawaban tunggal. Sebagian filsuf menegaskan bahwa kritik memiliki nilai independen karena berfungsi mengungkap kesalahan, kontradiksi, atau ilusi yang tersembunyi. Sebagian lainnya menilai bahwa kritik akan lebih bermakna jika membantu menemukan jalan keluar. Perbedaan ini muncul karena mereka memahami fungsi filsafat secara berbeda. Ada yang melihat filsafat sebagai pencarian kebenaran melalui pengujian terus-menerus, ada pula yang melihatnya sebagai sarana memperbaiki kehidupan manusia.

Karena itu, pernyataan bahwa setiap kritik harus disertai solusi tidak dapat dianggap sebagai hukum universal. Dalam filsafat, kritik tetap sah meskipun tidak menawarkan jawaban akhir. Namun dalam praktik sosial, politik, atau organisasi, tuntutan untuk memberikan solusi sering kali masuk akal karena masyarakat tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai apa yang salah, tetapi juga gagasan mengenai apa yang dapat dilakukan. Kritik dan solusi akhirnya bukanlah dua hal yang selalu harus hadir bersama, melainkan dua kegiatan yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kritik membantu manusia melihat masalah dengan lebih jelas, sementara solusi membantu manusia bergerak menuju keadaan yang dianggap lebih baik. Tanpa kritik, solusi dapat menjadi naif; tanpa solusi, kritik dapat kehilangan daya ubahnya. Justru dalam ketegangan antara keduanya, kehidupan intelektual dan sosial dapat terus berkembang. Akhirnya kembali kepada kita; pintu masuk mana yang akan kita lalui, karena filsafat hanya menawarkan banyaknya pintu, adapun pintu mana yang menjadi pilihan, tergantung kepada si pemilih.

Salam Filsafat


 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)