LORONG SUNYI DI HARI LIBUR

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Saat menjelang libur panjang Idhul Adha lalu, sementara menunggu jemputan, maklum sudah menjadi taman kakek-kakek, berbincang dengan seorang karyawan yang bertugas pada level bawah. Saat ditanya mau kemana libur panjang, mukanya tampak sekilas agak berubah, dan tidak lama menghela nafas dalam-dalam. Beliau berkata lirih mengatakan bahwa libur terlalu lama itu malapetaka baginya. Tentu jawaban ini mendorong untuk bertanya lebih dalam, dan ternyata semua itu berkaitan dengan berkurangnya pendapatan mereka.

Bagi banyak orang, libur panjang adalah berkah yang selalu ditunggu. Kalender yang dipenuhi tanggal merah terasa seperti pintu menuju kebahagiaan kecil setelah hari-hari panjang yang melelahkan. Jalanan dipenuhi kendaraan yang membawa keluarga pulang ke kampung halaman, pusat perbelanjaan dipenuhi wajah-wajah gembira, dan rumah-rumah kembali hidup oleh percakapan yang selama ini tertunda oleh kesibukan. Orang-orang merasa memiliki alasan untuk bernapas lebih pelan, tidur lebih lama, dan melupakan sejenak kerasnya tuntutan hidup. Libur panjang dianggap sebagai kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang utuh setelah terlalu lama dipaksa menjadi mesin.

Namun kebahagiaan tidak pernah dibagi secara merata, disitulah letak adilnya Sang Maha Pencipta. Di balik suasana ramai dan penuh tawa itu, ada sedikit orang yang justru merasa terjebak dalam hari-hari yang terlalu sunyi. Libur panjang tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai tekanan yang bergerak perlahan di dalam kepala. Ketika aktivitas berhenti, pikiran mulai berjalan tanpa arah. Ketika pekerjaan menghilang sementara, ketakutan yang selama ini tertutup rutinitas mulai bermunculan satu demi satu.

Ada orang-orang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan harian, pada upah yang datang dari langkah kaki dan tenaga yang dikeluarkan setiap hari. Bagi mereka, libur panjang bukan kesempatan untuk beristirahat, melainkan jeda yang menakutkan. Penghasilan berhenti, sementara kebutuhan tetap berjalan seperti biasa. Tagihan tidak ikut libur. Harga kebutuhan pokok tidak menjadi lebih murah hanya karena kalender menunjukkan hari merah. Hidup tetap meminta biaya, bahkan ketika kesempatan mencari uang sedang ditutup sementara sekalipun.

Di saat banyak orang menikmati makan bersama keluarga, sebagian lainnya duduk dalam diam sambil menghitung sisa uang yang makin menipis. Mereka membuka dompet berkali-kali seolah berharap jumlahnya berubah dengan sendirinya. Mereka memeriksa telepon bukan untuk membaca ucapan liburan, melainkan untuk memastikan apakah masih ada pekerjaan yang mungkin datang secara mendadak. Ada kecemasan yang sulit dijelaskan ketika seseorang sadar bahwa beberapa hari tanpa penghasilan dapat mengubah seluruh keadaan hidupnya.

Kesibukan sebenarnya sering menjadi cara paling sederhana untuk melarikan diri dari ketakutan. Saat tubuh sibuk bekerja, pikiran tidak memiliki cukup ruang untuk memikirkan banyak hal. Manusia merasa hidupnya masih bergerak karena setiap hari memiliki tujuan yang jelas. Namun ketika libur panjang datang dan semua mendadak berhenti, manusia dipaksa duduk bersama dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, banyak suara gelap mulai terdengar lebih jelas.

Bagi sebagian orang, malam saat libur panjang terasa jauh lebih berat dibanding hari biasa. Tidak ada kelelahan pekerjaan yang dapat memaksa tubuh segera tidur. Pikiran justru terus berjalan tanpa henti. Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Lampu kamar terasa terlalu redup. Kesunyian seperti duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan setiap kecemasan yang muncul perlahan. Ada orang-orang yang terjaga sampai dini hari bukan karena menikmati waktu santai, melainkan karena terlalu takut menghadapi hari esok.

Ironisnya, dunia selalu menganggap libur panjang sebagai waktu yang membahagiakan. Orang yang terlihat murung ketika semua orang sedang bersenang-senang sering dianggap aneh. Padahal tidak semua manusia memiliki rumah yang hangat untuk pulang. Tidak semua orang memiliki keluarga yang mampu mengusir rasa sepi. Ada yang justru merasa semakin kosong ketika terlalu lama berada di rumah. Ada yang merasa hidupnya kehilangan arah ketika rutinitas berhenti mendadak.

Media sosial membuat keadaan terasa lebih menyakitkan. Foto-foto perjalanan, meja makan yang penuh, dan wajah-wajah bahagia muncul tanpa henti di layar medsos. Kebahagiaan orang lain bergerak begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh untuk disentuh. Sebagian orang akhirnya hanya menatap layar sambil merasa hidupnya semakin tertinggal. Mereka tidak iri pada kebahagiaan itu, tetapi merasa asing karena tidak mampu merasakan hal yang sama.

Pada akhirnya, libur panjang hanya memperlihatkan keadaan manusia yang sebenarnya. Sebagian menemukan ketenangan dalam jeda, tetapi sebagian lain menemukan ketakutan yang selama ini berhasil disembunyikan oleh kesibukan. Hari-hari yang seharusnya membawa istirahat berubah menjadi lorong sunyi yang dipenuhi bayang keraguan, kecemasan, dan rasa takut akan hidup yang terus bergerak tanpa belas kasihan. Bagi sedikit orang, libur panjang bukan waktu untuk merayakan kebersamaan, melainkan saat ketika kesunyian terasa paling keras dan kehidupan tampak jauh lebih berat daripada hari-hari biasa. Benar kata para ulama terdahulu yang mengatakan bahwa bisa jadi sesuatu itu berkah bagi yang lain, tetapi malapetaka bagi lainnya.

Salam Waras dari lorong waktu


Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)