MARUWAH YANG TERGADAI

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ada saat ketika sebuah bangsa tidak sedang kalah perang, tidak pula kehilangan wilayah, tetapi tetap merasa kalah di hadapan dunia. Kekalahan semacam itu tidak terdengar melalui dentuman meriam. Ia muncul dari gestur, dari cara seorang pemimpin diperlakukan, dari bagaimana ia berdiri ketika berhadapan dengan pemimpin negara lain, lalu dari bagaimana rakyat sendiri menilai penampilannya setelah kembali ke tanah air.

Kunjungan ke Turki misalnya, menjadi perhatian karena muncul kesan bahwa sambutan terhadap pemimpin negeri ini tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Soal bersalaman mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dalam diplomasi tidak ada gestur yang benar-benar sepele. Jabat tangan, tatapan mata, posisi berdiri, bahkan siapa yang lebih dahulu menyapa dapat menjadi simbol hubungan politik. Karena itu, seorang pemimpin harus memahami bahwa setiap gerak tubuhnya dapat diterjemahkan sebagai pesan tentang posisi negaranya.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika kunjungan ke Rusia justru melahirkan kesan berbeda: bukan seorang pemimpin negara yang sedang berdialog dengan mitra yang setara, melainkan seseorang yang seperti sedang menerima kuliah dari pihak yang lebih berkuasa. Bisa saja kenyataan di dalam ruang pertemuan jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat di depan kamera. Tetapi politik tidak hanya dibentuk oleh kenyataan. Politik juga dibentuk oleh persepsi. Dan persepsi publik terhadap seorang pemimpin dapat menjadi kekuatan politik yang sangat menentukan.

Kemudian yang menyakitkan lagi bukan hanya bagaimana seorang pemimpin terlihat di luar negeri, tetapi bagaimana ia dibicarakan di dalam negeri. Rakyat yang seharusnya bangga melihat pemimpinnya berdiri di panggung internasional justru menjadikannya bahan olok-olokan. Meme bermunculan, candaan menyebar, dan sindiran menjadi konsumsi sehari-hari. Ketika keadaan seperti ini terjadi secara luas, persoalannya tidak lagi sekadar soal humor. Ada sesuatu yang sedang retak antara pemimpin dan rakyatnya.

Pemimpin tentu tidak harus selalu disukai. Bahkan pemimpin yang baik sekalipun akan menghadapi kritik. Namun ada perbedaan antara dikritik karena kebijakan dan ditertawakan karena dianggap kehilangan wibawa. Kritik terhadap kebijakan dapat dijawab dengan argumentasi. Tetapi ketika kewibawaan mulai runtuh, jawabannya jauh lebih sulit karena yang hilang bukan sekadar dukungan, melainkan kepercayaan terhadap kemampuan seseorang membawa nama bangsa.

Di sinilah kekuasaan sering kali keliru membaca keadaan. Ketika rakyat tertawa, pemerintah mungkin tergoda menyalahkan rakyat. Ketika kritik meningkat, pendukung pemerintah mungkin menuduh semuanya sebagai propaganda asing. Padahal, suara rakyat tidak selalu harus dibungkam atau dilawan. Kadang-kadang tawa adalah bentuk lain dari kekecewaan. Sindiran adalah cara masyarakat mengatakan bahwa ada sesuatu yang mereka anggap tidak beres.

Marwah negara tidak dibangun dengan kemewahan rombongan, panjangnya karpet merah, atau banyaknya kamera yang mengikuti seorang pemimpin. Marwah dibangun ketika seorang pemimpin mampu mengatakan tidak kepada pihak yang lebih kuat jika kepentingan bangsanya terancam. Marwah muncul ketika ia mampu mengatakan ya tanpa terlihat tunduk. Marwah hadir ketika ia dapat menghormati negara lain tanpa membuat negaranya sendiri tampak kecil.

Sejarah dalam hubungan internasional, tidak ada negara yang benar-benar berteman tanpa kepentingan. Negara besar akan memperjuangkan kepentingannya. Negara kecil pun seharusnya melakukan hal yang sama. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh datang ke meja diplomasi hanya dengan modal keramahan. Ia harus membawa perhitungan, strategi, keberanian, dan kemampuan bernegosiasi. Senyum boleh diberikan, penghormatan wajib ditunjukkan, tetapi kepentingan nasional tidak boleh ditinggalkan.

Rakyat juga tidak menuntut pemimpinnya selalu menang. Rakyat memahami bahwa diplomasi memiliki banyak keterbatasan. Yang mereka inginkan sebenarnya sederhana: ketika pemimpin mereka berdiri di hadapan dunia, mereka ingin merasa bangga. Mereka ingin melihat seseorang yang berbicara dengan keyakinan, memahami persoalan, dan tidak terlihat kehilangan arah ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.

Sebab jabatan dapat diperoleh melalui mekanisme politik, tetapi wibawa harus diperoleh melalui tindakan. Kekuasaan dapat membuat seseorang duduk di kursi tertinggi, tetapi hanya kualitas kepemimpinannya yang membuat orang lain menghormati kursi tersebut. Jika seorang pemimpin terus-menerus terlihat kehilangan pijakan di luar negeri dan kemudian menjadi bahan tertawaan rakyatnya sendiri, yang sedang terkikis bukan hanya citra pribadi. Yang ikut dipertaruhkan adalah kehormatan negara yang dibawanya. Dan ketika marwah sebuah negeri mulai dianggap murah, mengembalikannya tidak cukup dengan pidato, melainkan membutuhkan kepemimpinan yang kembali membuat rakyat percaya bahwa kepala negaranya mampu berdiri tegak di hadapan dunia.

Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)