MENJADI BAIK, ATAU MENJADI BERGUNA

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Menjadi baik mungkin bukan perkara yang terlalu sulit. Seseorang cukup menjaga diri dari segala larangan, menjalankan semua perintah, serta berusaha tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Dalam batas tertentu, kebaikan dapat dipahami sebagai kemampuan mengendalikan diri agar tidak jatuh ke dalam keburukan. Namun, apakah menjadi baik saja sudah cukup untuk menjadikan seseorang bermakna bagi kehidupan? Di sinilah persoalan moral manusia menjadi lebih menarik. Sebab, ada perbedaan mendasar antara manusia yang sekadar tidak berbuat jahat dan manusia yang sungguh-sungguh menghadirkan kebaikan bagi sesamanya.

Menjadi baik lebih banyak berbicara tentang kualitas moral pribadi, sedangkan menjadi bermanfaat berbicara tentang tanggung jawab eksistensial manusia terhadap kehidupan di luar dirinya. Yang pertama berorientasi pada bagaimana menjaga diri, sementara yang kedua menuntut kesediaan untuk keluar dari kepentingan diri. Keduanya tentu tidak bertentangan, tetapi tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang bisa sangat tertib menjalankan kewajiban keagamaannya, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Ia mungkin tidak pernah merugikan siapa pun, tetapi juga tidak pernah merasa perlu membantu siapa pun.

Inilah salah satu paradoks kesalehan: seseorang dapat merasa telah menjadi manusia baik karena berhasil menjaga dirinya dari kesalahan, padahal ia belum tentu memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Kebaikan kemudian berhenti sebagai urusan pribadi, seolah-olah kehidupan moral hanya berkaitan dengan hubungan manusia dan Tuhan, tanpa konsekuensi terhadap hubungan antarmanusia. Padahal, kualitas keberagamaan semestinya tidak hanya tercermin dalam keteraturan ritual, tetapi juga dalam kemampuannya melahirkan kepedulian sosial.

Pada perspektif filsafat kontemporer, manusia tidak dapat dipahami sebagai individu yang berdiri sendiri. Eksistensinya selalu berhubungan dengan eksistensi orang lain. Kita hidup karena jaringan pertolongan, kepercayaan, kerja sama, dan pengorbanan yang melibatkan begitu banyak manusia. Tidak ada keberhasilan yang sepenuhnya merupakan hasil usaha individual. Bahkan, hal-hal yang kita nikmati setiap hari merupakan buah dari pekerjaan orang lain. Kesadaran ini seharusnya menggugat individualisme yang menjadikan kepentingan pribadi sebagai pusat kehidupan.

Menjadi bermanfaat berarti menyadari bahwa keberadaan kita memiliki konsekuensi sosial. Kita tidak cukup hanya bertanya apakah tindakan kita melanggar aturan, tetapi juga perlu bertanya apakah tindakan kita memberikan sesuatu bagi kehidupan orang lain. Tidak mencuri memang baik, tetapi membantu orang yang kehilangan sumber penghidupan jauh lebih bermakna secara sosial. Tidak menyakiti orang lain adalah kewajiban moral, tetapi menguatkan mereka yang sedang mengalami penderitaan merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang lebih aktif.

Persoalannya, manusia modern sering kali lebih sibuk membangun citra kebaikan daripada mengupayakan manfaat nyata. Kesalehan mudah dipertontonkan, kepedulian mudah dipublikasikan, dan kebaikan sering kali membutuhkan pengakuan. Media sosial bahkan memungkinkan seseorang terlihat sangat peduli tanpa harus benar-benar terlibat dalam persoalan yang dihadapinya. Akibatnya, kebaikan berpotensi berubah menjadi pertunjukan moral. Yang lebih penting bukan lagi seberapa besar manfaat yang diberikan, melainkan seberapa banyak orang mengetahui bahwa kita telah berbuat baik.

Padahal, manfaat tidak selalu lahir dari tindakan besar. Ia dapat hadir dalam kesediaan mendengarkan, memberikan kesempatan, berbagi pengetahuan, membuka jalan bagi orang lain, atau membantu seseorang bangkit dari keterpurukan. Bahkan, terkadang manfaat terbesar bukan memberikan sesuatu yang kita miliki, melainkan mengurangi beban yang sedang ditanggung orang lain. Ukuran kebaikan tidak selalu terletak pada besarnya tindakan, tetapi pada ketulusan dan dampaknya bagi kehidupan sesama.

Di sinilah menjadi bermanfaat membutuhkan kualitas moral yang lebih kompleks. Ia menuntut empati, kepekaan, keberanian, dan kesediaan mengorbankan sebagian kenyamanan diri. Mengetahui bahwa orang lain sedang kesulitan tidak otomatis membuat kita tergerak untuk menolong. Ada jarak antara kesadaran dan tindakan, antara mengetahui kebaikan dan bersedia melakukannya. Jarak itulah yang memperlihatkan apakah nilai-nilai moral benar-benar telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang atau hanya berhenti sebagai pengetahuan dan slogan.

Karena itu, kita perlu mengkritisi cara pandang yang menjadikan kebaikan sebagai pencapaian individual. Jangan sampai seseorang merasa telah selesai dengan urusan moralnya hanya karena tidak melanggar larangan dan telah menjalankan kewajiban. Sebab, kehidupan sosial tidak hanya membutuhkan manusia yang tidak merusak, tetapi juga manusia yang bersedia memperbaiki. Tidak cukup hanya menjadi orang yang tidak menambah penderitaan, tetapi perlu berusaha mengurangi penderitaan yang sudah ada.

Menjadi baik adalah fondasi, sedangkan menjadi bermanfaat merupakan perluasan makna kebaikan itu sendiri. Kebaikan yang hanya berhenti pada diri sendiri berisiko menjadi kesalehan yang steril: bersih secara pribadi, tetapi tidak memberikan perubahan bagi lingkungan. Bukankah keberadaan manusia seharusnya meninggalkan jejak yang lebih bermakna daripada sekadar catatan bahwa ia tidak pernah melakukan keburukan? Barangkali, ukuran kematangan moral yang sesungguhnya bukan hanya seberapa berhasil kita menjaga diri dari keburukan, melainkan seberapa banyak kehidupan orang lain menjadi lebih baik karena kehadiran kita… Salam Waras.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)