MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di tengah derasnya arus perubahan sosial dan politik, masyarakat yang berbudaya palembang memiliki sebuah ungkapan yang sarat makna, yaitu "meraso pacak pada hal buyan." Secara sederhana, ungkapan ini menggambarkan seseorang yang merasa dirinya paling mampu, paling mengerti, dan paling benar, padahal kemampuan yang dimiliki belum tentu sebanding dengan keyakinan yang diperlihatkan. Dalam bahasa Indonesia, maknanya tidak jauh berbeda dengan pepatah "tong kosong nyaring bunyinya" atau dalam falsafah Jawa “rumongso biso”. Ungkapan ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam mengamati watak manusia. Ia menjadi kritik halus terhadap sikap angkuh yang sering kali menutup pintu kebijaksanaan.
Kearifan lokal semacam ini sesungguhnya tidak hanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sangat relevan untuk menilai praktik kepemimpinan. Sebab, seorang pemimpin yang terjebak dalam perasaan selalu benar akan sulit melihat kenyataan sebagaimana adanya. Ia cenderung memandang keberhasilan hanya dari sudut pandangnya sendiri, sementara keluhan masyarakat dianggap sebagai gangguan yang tidak perlu diperhatikan. Ketika rasa percaya diri berubah menjadi kesombongan, maka yang lahir bukan lagi kepemimpinan yang bijaksana, melainkan kepemimpinan yang kehilangan kemampuan mendengar.
Fenomena seperti itulah yang tampaknya mulai mengemuka dalam kehidupan berbangsa saat ini. Berbagai keputusan penting sering kali muncul dengan keyakinan yang begitu besar bahwa semuanya telah dipikirkan secara matang. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu sejalan dengan narasi yang dibangun. Masih banyak persoalan yang dirasakan masyarakat, mulai dari kesulitan ekonomi, ketimpangan pelayanan publik, hingga rasa keadilan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Ironisnya, suara-suara tersebut kerap dianggap sebagai bentuk ketidakpuasan yang berlebihan, bukan sebagai masukan yang layak didengar. Akhirnya yang keluar adalah sikap angkuh dengan mempersilahkan rakyat yang tidak suka untuk meninggalkan negeri yang dicintainya ini.
Ungkapan meraso pacak pada hal buyan mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang memiliki pengetahuan sempurna. Jabatan setinggi apa pun tidak otomatis membuat seseorang mengetahui seluruh persoalan yang dihadapi rakyat. Laporan resmi dapat menyajikan angka yang indah, tetapi kehidupan masyarakat tidak selalu dapat diterjemahkan hanya melalui statistik. Ada rasa cemas, harapan, dan penderitaan yang hanya dapat dipahami apabila seorang pemimpin bersedia turun mendengar, melihat, dan merasakan sendiri denyut kehidupan masyarakat. Dan, itulah sejatinya “Among Roso”.
Masalah terbesar dari sikap merasa paling mampu adalah hilangnya ruang koreksi. Ketika kritik dipandang sebagai ancaman, maka orang-orang di sekitar cenderung memilih diam daripada menyampaikan kenyataan. Mereka lebih senang menyampaikan kabar baik daripada menyampaikan fakta yang mungkin tidak menyenangkan. Akibatnya, keputusan yang diambil semakin jauh dari kondisi nyata. Pemimpin akhirnya hidup dalam ruang gema, hanya mendengar suara-suara yang menguatkan keyakinannya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, kesalahan bukan hanya mungkin terjadi, tetapi juga berpotensi terus berulang karena tidak ada mekanisme yang sehat untuk memperbaikinya.
Budaya lokal Nusantara pada dasarnya selalu mengajarkan kerendahan hati. Orang tua dahulu tidak pernah mendidik anak-anaknya untuk menjadi orang yang merasa paling pintar. Sebaliknya, mereka diajarkan agar banyak mendengar, sedikit berbicara, dan menghargai pengalaman orang lain. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Kesadaran seperti inilah yang melahirkan kebijaksanaan. Sebaliknya, mereka yang terlalu cepat merasa mampu sering kali berhenti belajar karena menganggap dirinya telah mencapai puncak pengetahuan.
Dalam penyelenggaraan negara, kerendahan hati bukan sekadar nilai moral, tetapi juga kebutuhan praktis. Negara yang besar dan majemuk tidak mungkin dikelola hanya dengan satu cara pandang. Berbagai persoalan membutuhkan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap kritik. Tidak semua usulan masyarakat harus diterima, tetapi setiap suara patut dihargai sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Ketika ruang dialog ditutup, yang tumbuh bukanlah persatuan, melainkan kekecewaan yang perlahan mengikis kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Masyarakat sesungguhnya tidak menuntut kesempurnaan dari para pemimpinnya. Yang mereka harapkan adalah kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan mengakui apabila terdapat kekurangan. Kepercayaan publik tumbuh bukan karena seorang pemimpin tidak pernah salah, melainkan karena ia memiliki keberanian untuk menerima kritik dan memperbaiki kesalahan. Sikap demikian jauh lebih dihormati daripada mempertahankan citra bahwa semua keputusan selalu benar meskipun kenyataan menunjukkan sebaliknya.
Ungkapan meraso pacak pada hal buyan bukanlah sekadar sindiran, melainkan sebuah peringatan moral. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati akan mudah berubah menjadi kesombongan, sedangkan kewenangan tanpa kemampuan mendengar akan kehilangan arah. Negeri ini tidak memerlukan pemimpin yang sibuk membuktikan dirinya paling hebat, melainkan pemimpin yang bersedia belajar dari rakyat yang dipimpinnya. Sebab, sebesar apa pun kekuasaan seseorang, kebijaksanaan tetap lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak pernah luput dari kekeliruan. Ketika rasa "meraso pacak" mampu digantikan oleh sikap rendah hati untuk terus belajar dan mendengar, di situlah kepemimpinan menemukan makna sejatinya sebagai pengabdian, bukan sekadar penguasa.
Salam waras
Tulis Komentar