NEGERI DAGELAN

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Melalui media sosial ini penulis berdiskusi dengan seorang mahasiswa pascasarjana yang sudah bekerja; kebetulan yang bersangkutan adalah seorang pimpinan unit lapangan garda depan negeri ini bidang keahlian penyelamatan generasi. Beliau juga berkeluh kesah bagaimana memikirkan peneyelenggaraan negara, yang menurut beliau sering keluar dari pakem keharusan. Tidak jarang beliau dan team harus seperti pelawak main di atas panggung, maka jadilah negeri dagelan itu. Sementara teman lain yang seorang Guru Besar “ngudoroso” bahwa ada petinggi negeri ini saat belum masuk pemerintahan vokalnya seperti “lananging jagad”. Berteriak atas nama keadilan, atas nama kesetaraan, atas nama demokrasi dan entah apa lagi. Begitu masuk ke sistem pemerintahan berbalik seratus delapanpuluh derajad. Persis adegan Srimulat pada jamannya, yaitu Tonil Dagelan yang mementaskan adegan pengocok perut.

Bagi rakyat kecil ternyata dagelan tidak sesederhana itu. Mereka justru pemain sekaligus penderita; karena mereka seolah selalu menjadi posisi korban, apapun itu sudut pandangnya. Jika kita telusuri lebih mendalam secara filosofis negeri dagelan adalah metafora bagi ruang politik yang dipenuhi jarak antara ucapan dan kenyataan. Dalam lanskap seperti ini, warga tidak hanya menghadapi kesulitan ekonomi, tetapi juga mengalami kebingungan makna. Mereka mendengar janji tentang kemajuan, kesejahteraan, dan keadilan, namun setiap hari menyaksikan biaya hidup meningkat, pekerjaan menjadi rapuh, dan akses terhadap layanan dasar terasa semakin berat.

Pada  filsafat kontemporer, kondisi semacam ini dapat dibaca sebagai krisis representasi. Bahasa yang semestinya menjembatani realitas dan pengalaman justru berubah menjadi panggung pertunjukan. Kata tidak lagi berfungsi menjelaskan keadaan, melainkan membentuk citra yang tampak meyakinkan meskipun sering terlepas dari fakta yang dialami masyarakat luas.

Ketika pernyataan resmi terus mengabarkan keberhasilan sementara dapur banyak keluarga bergantung pada perhitungan harian yang ketat;  muncul perasaan bahwa realitas sedang disunting oleh narasi yang lebih kuat daripada pengalaman. Filsafat kontemporer melihat gejala tersebut bukan sekadar masalah komunikasi melainkan persoalan kekuasaan atas pengetahuan. Apa yang dianggap benar sering ditentukan oleh kemampuan mengulang pesan melalui berbagai saluran hingga pesan itu tampak wajar. Namun kewajaran yang diproduksi terus menerus tidak selalu identik dengan kebenaran. Karena itu warga kerap merasa hidup dalam dua dunia sekaligus dunia statistik dan dunia pengalaman.

Di atas panggung negeri tampak tertata rapi penuh optimisme dan angka yang mengesankan. Di selasar kehidupan sehari hari orang harus menghitung ulang pengeluaran menunda kebutuhan dan menerima ketidakpastian sebagai teman tetap. Jurang antara kedua dunia inilah yang melahirkan sinisme sekaligus kelelahan sosial.

Krisis tersebut juga berkaitan dengan perubahan cara masyarakat memahami kenyataan. Arus informasi yang cepat membuat batas antara fakta opini dan pencitraan semakin kabur. Dalam situasi demikian orang tidak hanya mencari kebenaran tetapi juga berjuang menentukan informasi mana yang layak dipercaya. Ketika kepercayaan melemah ruang publik berubah menjadi arena kecurigaan tempat setiap pernyataan dianggap memiliki maksud tersembunyi.

Bagi rakyat yang berhadapan langsung dengan kebutuhan hidup persoalan utama bukan perdebatan teoritis melainkan kemampuan mempertahankan martabat. Martabat hadir ketika kerja memperoleh penghargaan yang layak ketika kebutuhan dasar dapat dipenuhi tanpa kecemasan berlebihan dan ketika masa depan masih mungkin dibayangkan dengan harapan. Jika kondisi itu melemah maka rasa keterhubungan dengan negara ikut menipis.

Negeri dagelan bukanlah takdir yang harus diterima selamanya. Kritik memiliki peran penting karena memungkinkan masyarakat menguji kembali hubungan antara kata dan kenyataan. Kritik dalam pengertian filosofis bukan sekadar keluhan melainkan upaya memeriksa asumsi membandingkan klaim dengan pengalaman serta menuntut konsistensi dari mereka yang berbicara atas nama kepentingan bersama.

Dari sudut pandang filsafat kontemporer kedewasaan politik tidak diukur dari kemegahan simbol melainkan dari kemampuan menerima kritik dan memperbaiki kesalahan. Masyarakat yang dewasa tidak menuntut kesempurnaan melainkan meminta kesesuaian antara janji tindakan dan akibat yang dirasakan warga. Ukuran keberhasilan bukan terutama apa yang terdengar di atas panggung melainkan apa yang terjadi di meja makan rumah tangga.

Karena itu negeri dagelan sesungguhnya adalah peringatan filosofis tentang bahaya ketika citra menggantikan kenyataan dan pertunjukan mengambil alih tanggung jawab. Selama perbedaan antara ucapan dan pengalaman terus melebar masyarakat akan tetap merasakan keganjilan yang sulit dijelaskan oleh angka atau pidato. Sebaliknya ketika kata kembali berpijak pada kenyataan dan kebijakan sungguh menyentuh kebutuhan hidup sehari hari kepercayaan dapat tumbuh kembali. Saat itulah panggung dan selasar tidak lagi berdiri sebagai dua dunia yang saling meniadakan melainkan menjadi bagian dari kehidupan bersama yang lebih adil terbuka dan masuk akal.

Pertanyaan yang tersisa adalah; bukan apakah masyarakat menyadari kontradiksi tersebut melainkan bagaimana mengubah kesadaran itu menjadi tindakan kolektif yang bertanggung jawab. Perubahan tidak selalu lahir dari peristiwa besar tetapi sering bermula dari keberanian menyebut kenyataan dengan nama yang tepat menjaga ingatan atas pengalaman bersama dan menolak menerima kepalsuan sebagai kewajaran. Dari langkah kecil semacam itu tumbuh kemungkinan bagi lahirnya ruang politik yang lebih jernih lebih manusiawi lebih reflektif dan berkeadaban luas. 

Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)