MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada sebuah ironi yang tumbuh subur di negeri ini: semakin tinggi seseorang naik ke tampuk kekuasaan, semakin berkurang kemampuannya untuk mendengar. Bukan tuli secara fisik, melainkan tuli terhadap suara-suara yang berbeda, kritik yang jujur, dan jeritan rakyat kecil yang hidupnya makin terhimpit. Mereka hanya mendengar pujian, tepuk tangan, dan kalimat-kalimat manis yang membuat kekuasaan terasa nyaman. Akibatnya, negeri ini perlahan berubah menjadi negeri tuli, tempat suara rakyat menggema ke mana-mana tetapi tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka yang duduk di kursi pengambil keputusan.
Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di sawah-sawah, bahkan di rumah-rumah sempit pinggir kota, rakyat terus berbicara tentang kesulitan hidup. Harga kebutuhan pokok naik tanpa ampun, pekerjaan semakin sulit dicari, pendidikan terasa mahal, dan layanan kesehatan menjadi kemewahan bagi sebagian orang. Namun setiap keluhan seolah hanya menjadi angin lalu. Rakyat boleh berteriak sekeras apa pun, tetapi suara itu akan memantul kembali tanpa jawaban. Pemerintah dan para pemegang kuasa sibuk membangun citra, menyusun pidato, dan mempertahankan popularitas, pidato sambil gebrak-gebrak meja; sementara kenyataan di bawah terlihat semakin jauh dari perhatian.
lebih menyedihkan lagi, perbedaan pendapat sering dianggap ancaman. Kritik dipandang sebagai kebencian, bukan sebagai bentuk kepedulian. Padahal sebuah negara yang sehat justru tumbuh dari keberanian rakyatnya untuk berbicara dan keberanian pemimpinnya untuk mendengar. Ketika semua kritik dibungkam atau diabaikan, maka yang tersisa hanyalah gema pujian yang palsu. Orang-orang di sekitar kekuasaan berlomba-lomba mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Mereka takut kehilangan jabatan, kehilangan akses, atau kehilangan kenyamanan jika berbicara jujur.
Di negeri tuli, kebenaran sering kalah oleh pencitraan. Masalah yang nyata ditutupi dengan slogan-slogan indah dan janji-janji besar. Kemiskinan dikemas menjadi angka statistik yang tampak membaik, sementara rakyat masih harus berjuang untuk makan esok hari. Ketidakadilan dianggap biasa selama tidak mengganggu mereka yang memiliki kuasa. Rakyat kecil akhirnya hanya menjadi penonton dalam negeri mereka sendiri. Mereka hadir saat pemilu dibutuhkan, tetapi dilupakan ketika kekuasaan telah berhasil diraih.
Padahal suara rakyat adalah fondasi sebuah negara. Jeritan buruh yang upahnya tidak cukup, keluhan petani yang hasil panennya murah, tangisan ibu yang kesulitan membeli kebutuhan anaknya, semuanya adalah alarm yang seharusnya didengar. Jika suara-suara itu terus diabaikan, maka sebenarnya negara sedang berjalan menuju kehancuran perlahan. Sebab sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang benar-benar kuat ketika ia kehilangan kemampuan untuk mendengar rakyatnya sendiri.
Tuli terhadap kritik juga membuat penguasa kehilangan empati. Mereka hidup dalam lingkaran nyaman yang dipenuhi pujian dan laporan-laporan baik. Mereka melihat angka pertumbuhan, tetapi tidak melihat orang-orang yang tertinggal di belakang. Mereka berbicara tentang kemajuan, tetapi lupa bahwa banyak rakyat bahkan belum merasakan kehidupan yang layak. Ketika empati hilang, kebijakan tidak lagi dibuat untuk manusia, melainkan untuk kepentingan citra dan kekuasaan semata.
Di media sosial, rakyat terus mencoba bersuara. Mereka menulis keluhan, membuat kritik, bahkan mencurahkan kemarahan. Namun sering kali suara itu justru dibalas dengan cibiran, ancaman, atau dianggap tidak tahu apa-apa. Ada kecenderungan bahwa rakyat hanya boleh memuji, tetapi tidak boleh mengoreksi. Akibatnya, ruang demokrasi menjadi sempit. Orang mulai takut berbicara jujur karena khawatir dianggap melawan atau tidak sejalan. Dalam keadaan seperti itu, negeri perlahan kehilangan kewarasannya, karena kebenaran tidak lagi penting, yang penting hanyalah menjaga kenyamanan kekuasaan.
Negeri tuli juga melahirkan keputusasaan. Ketika rakyat merasa suaranya tidak pernah didengar, mereka mulai kehilangan harapan terhadap perubahan. Mereka bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, tanpa lagi percaya bahwa keadaan bisa menjadi lebih baik. Keputusasaan ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan rasa memiliki terhadap bangsa sendiri. Orang menjadi apatis, tidak peduli lagi terhadap masa depan negara, sebab mereka merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah apa-apa.
Namun sesungguhnya, mendengar adalah inti dari kepemimpinan. Pemimpin yang besar bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang mampu menerima kritik dan memahami penderitaan rakyatnya. Mendengar membutuhkan kerendahan hati, sesuatu yang sering hilang ketika kekuasaan menjadi terlalu besar. Banyak orang lupa bahwa jabatan hanyalah titipan sementara, sedangkan penderitaan rakyat adalah kenyataan yang harus segera diselesaikan.
Negeri ini tidak membutuhkan lebih banyak pidato yang indah. Negeri ini membutuhkan telinga yang terbuka. Telinga yang mau mendengar suara rakyat kecil tanpa merasa terganggu. Telinga yang mampu membedakan antara kritik yang membangun dan kebencian. Telinga yang tidak hanya mendengar suara elite, tetapi juga suara mereka yang selama ini hidup dalam kesunyian.
Jika suatu hari para pemegang kekuasaan benar-benar mau mendengar, mungkin negeri ini tidak lagi menjadi negeri tuli. Rakyat tidak perlu berteriak terlalu keras untuk diperhatikan. Kritik tidak lagi dianggap ancaman. Dan kekuasaan tidak lagi berdiri jauh di atas rakyat, melainkan berjalan bersama mereka. Sebab sebuah bangsa tidak akan hancur karena terlalu banyak kritik, tetapi bisa runtuh ketika para pemimpinnya berhenti mendengar alias tuli.
Salam Waras
Tulis Komentar