Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang mengejutkan warga negeri ini; dari persoalan remehtemeh sampai yang berat. Semua itu menunjukkan dinamika yang luarbiasa pusarannya. Pada akhirnya banyak yang berkomentar melalui media sosial yang ada. Peristiwa selalu dilihat dari dua sisi; sisi yang mendukung dan sisi lain yang kontra. Hal serupa itu adalah wajar; namun menjadi tidak wajar dan ini pada titik tertentu justru mengkhawatirkan, yaitu kelompok “diam”. Memilih diam adalah juga pilihan yang harus kita hormati, sama halnya dengan penghormatan kepada yang mendukung dan yang kontra. Sebab, “diam” juga adalah satu pilihan. Seringkali, diam dianggap sebagai sikap pasif, tanda kepasrahan, atau bentuk ketidakberdayaan. Namun, benarkah diam hanya sebatas sikap yang tidak berarti? Atau justru, diam bisa menjadi bentuk perlawanan paling sunyi namun paling dalam? Mari kita dedah dari konsep filsafat manusia.
Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya bebas, dan oleh karena itu bertanggung jawab atas seluruh pilihannya, termasuk diam. Diam bukan berarti netral. Justru dalam keheningan, individu sedang membuat pilihan: untuk tidak berbicara, tidak bertindak, atau menunggu. Dalam eksistensialisme, makna muncul dari tindakan individu yang sadar akan keberadaannya. Namun, Sartre juga memperingatkan tentang bad faith, yakni ketika seseorang menipu dirinya sendiri untuk lari dari tanggung jawab. Dalam konteks ini, diam bisa menjadi bentuk penghindaran, berpura-pura tidak tahu, dan membiarkan keburukan terus terjadi.
Sementara tradisi filsafat Timur memandang diam sebagai bentuk kebijaksanaan. Dalam kondisi opresi, diam bisa menjadi bentuk perlawanan batin terhadap sistem yang memaksa manusia menjadi reaktif. Tidak ikut dalam permainan kekuasaan adalah bentuk pembebasan. Tetapi filsafat Timur juga menyadari batasnya: diam tidak bisa terus-menerus menjadi cara menghindar dari tanggung jawab sosial.
Dalam tradisi filsafat politik Barat, diam sering dikaitkan dengan absennya partisipasi politik. Plato, dalam Republik, mengkritik mereka yang diam terhadap politik, karena akhirnya akan diperintah oleh mereka yang lebih buruk. Hannah Arendt juga menyoroti bahaya dari diam dalam sistem totalitarian. Dalam analisisnya tentang Adolf Eichmann, ia menunjukkan bagaimana birokrasi Nazi berjalan lancar karena banyak orang biasa memilih diam dan "hanya menjalankan tugas." Di sinilah lahir konsep banality of evil: kejahatan besar muncul bukan karena niat jahat, tetapi karena banyak orang memilih tidak berpikir dan tidak melawan. Namun Arendt juga memberikan ruang bagi diam sebagai bentuk pemikiran mendalam. Dalam The Life of the Mind, ia membela kontemplasi sebagai bagian penting dari tindakan politik. Jadi, diam bisa menjadi jeda untuk berpikir sebelum bertindak, bukan bentuk ketidakpedulian.
Di sisi lain, Niccolò Machiavelli melihat bahwa dalam politik, kadang diam adalah strategi. Jika berbicara membahayakan posisi atau tujuan jangka panjang, maka diam bukan pasif, tapi bentuk kecerdikan.
Apakah etis untuk diam di tengah penderitaan? Dalam etika deontologis Kantian, manusia memiliki kewajiban moral untuk bertindak berdasarkan prinsip universal. Membiarkan ketidakadilan sama dengan melanggarnya. Maka dalam sudut pandang ini, diam adalah ketidaketisan. Namun dalam etika utilitarian, diam dapat dibenarkan jika konsekuensinya lebih baik. Misalnya, diam demi menjaga stabilitas, keselamatan, atau menunggu momentum yang lebih tepat untuk perubahan yang efektif. Tetapi ada pula pendekatan etika naratif dan eksistensial yang melihat setiap manusia sebagai bagian dari cerita hidup yang unik. Kadang diam adalah satu-satunya bentuk tindakan yang masuk akal dalam konteks tertentu, misalnya ketika suara telah terlalu dipolitisasi, atau ketika suara justru dijadikan alat kontrol.
Budaya Indonesia, khususnya Jawa, sangat menjunjung tinggi sikap diam, halus, dan menghindari konflik terbuka. Konsep seperti eling, ngeli, dan alon-alon asal kelakon menggambarkan nilai-nilai kehati-hatian, kesabaran, dan toleransi dalam menghadapi situasi sulit. Namun dalam sejarah politik Indonesia, sikap diam juga digunakan oleh rezim untuk melanggengkan kekuasaan. Di masa Orde Baru, banyak orang terpaksa diam karena tekanan, sensor, dan kekerasan. Diam menjadi alat represi.
Akan tetapi dalam masyarakat bawah, diam juga menjadi bentuk perlawanan tersembunyi. Petani, buruh, atau aktivis desa sering kali membentuk jaringan perlawanan sunyi yang artinya tidak frontal, tapi konsisten. Hal ini dibahas oleh Gayatri Spivak, yang mengatakan bahwa kelompok tertindas sering tidak bisa berbicara dalam bahasa kekuasaan, dan karenanya memilih diam. Tapi diam itu sendiri adalah bahasa yang harus diterjemahkan oleh yang berkuasa, jika ingin memahami penderitaan mereka. Namun demikian risiko terbesarnya adalah: diam bisa diartikan sebagai persetujuan. Seperti dalam pepatah hukum Latin, “Qui tacet consentire videtur” maknanya “yang diam dianggap menyetujui.” Maka tantangannya adalah bagaimana membedakan diam yang sadar dengan diam yang pasrah.
Dalam banyak gerakan sosial, diam telah digunakan sebagai bentuk protes yang kuat. Misalnya, aksi Silent Protest, March of Silence, atau duduk diam bersama di ruang publik. Diam yang terorganisir dan bermakna justru menarik perhatian lebih kuat daripada orasi panjang. Dalam konteks ini, diam bukan pilihan terakhir, tetapi pilihan pertama. Karena diam bisa menjadi simbol kemarahan yang paling tenang, tapi paling menusuk.
Apakah diam adalah pilihan atau perlawanan? Jawabannya: bisa keduanya. Diam adalah pilihan ketika dilakukan secara sadar, reflektif, dan berdasarkan penilaian terhadap konteks. Ia menjadi perlawanan ketika ia menolak ikut dalam sistem yang rusak, menolak menjadi bagian dari kebisingan palsu, atau justru sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.
Namun diam juga bisa menjadi bentuk kolusi diam-diam dengan kekuasaan, bentuk ketakutan, atau bentuk penghindaran. Istilah bahasa Palembang “Diam buat nyari selamat” maksudnya memilih diam karena ingin menyelamatkan diri dan keluarganya, sekalipun hatinya bertentangan. Maka penting bagi setiap individu untuk menanyakan pada dirinya sendiri: Diamku ini untuk siapa? Untuk apa? Dengan cara apa aku bertanggung jawab atas diam ini? Filsafat tidak memberikan jawaban mutlak, tetapi mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang tindakan kita, termasuk ketika kita memilih untuk tidak bertindak. Karena kadang, dalam dunia yang terlalu banyak suara, justru diam adalah satu-satunya suara yang tersisa, dan ia bisa mengguncang dunia, bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Salam Waras
Tulis Komentar