MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Majid Lintang
Di dunia jurnalistik, ada dua jenis narasumber: yang tidak mau bicara… dan yang bicara tapi tidak bisa dipercaya.
Reno berharap malam itu ia tidak bertemu dua-duanya sekaligus.
“Fokus, Reno. Ini eksklusif,” gumamnya sambil menatap layar laptop di ruang redaksi yang lampunya redup seperti niat olahraga hari Senin.
Tiga malam tanpa tidur telah mengubah Reno dari manusia menjadi… versi beta manusia.
Matanya merah. Rambutnya seperti baru diwawancarai angin puting beliung. Dan pikirannya mulai sering buffering.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal:
“Kalau mau tahu kebenaran, datang ke gang belakang gedung lama. Jam 23. Sendiri.”
Reno menatap pesan itu.
“Ini antara eksklusif… atau saya diculik.”
Ia menimbang.
Lalu ingat satu hal paling penting dalam hidup wartawan:
Kalau bukan dia yang dapat berita, nanti media lain yang dapat.
Ia berdiri.
“Baiklah. Kalau ini jebakan… semoga setidaknya bisa jadi feature.”
Jam 23 tepat, Reno sampai di gang belakang.
Tempatnya gelap. Sangat gelap. Bahkan bayangan pun tampak bingung mau berdiri di mana.
Lampu jalan berkedip seperti lagi ragu ikut kontrak atau tidak.
Lalu… suara muncul dari balik bayangan.
“Reno…”
Reno menelan ludah.
“Iya?”
“Kamu datang juga.”
“Ya… saya wartawan.”
“Bagus.”
Sosok itu maju sedikit. Masih samar. Seperti kenangan yang belum move on.
“Saya punya informasi penting.”
Reno langsung sigap. Notebook keluar. Pena siap.
“Silakan, Pak… atau Bu… atau… siapa pun.”
“Panggil saya… Narasumber Misterius.”
Reno mencatat.
Nama: Narasumber Misterius.
Kepercayaan diri: tinggi.
“Informasi apa yang Anda punya?”
“Semua yang kamu cari.”
Reno merinding. Ini terlalu bagus untuk jadi nyata. Atau terlalu aneh untuk ditolak.
“Mulai dari mana?”
“Dari fakta bahwa kamu belum tidur tiga hari.”
Reno berhenti menulis.
“Itu… benar sih.”
“Dan kamu minum kopi tujuh gelas hari ini.”
Reno menatap.
“Delapan.”
“Yang terakhir tidak kamu habiskan.”
Reno mundur selangkah.
“Bapak… siapa sebenarnya?”
Sosok itu mendekat sedikit lagi.
Masih gelap. Tapi suaranya… anehnya familiar.
“Tidak penting siapa saya. Yang penting… saya tahu semuanya tentang kamu.”
Reno mulai merasa ini bukan liputan. Ini sesi terapi yang salah alamat.
Mereka duduk di pinggir jalan.
Reno mulai wawancara serius.
“Baik. Apa info eksklusif yang Anda maksud?”
Narasumber itu menarik napas.
“Besok pagi kamu akan menulis berita yang kamu sendiri tidak mengerti.”
Reno mencatat.
“Lalu?”
“Kamu akan mengeditnya tiga kali.
Dan tetap merasa salah.”
Reno berhenti.
“Itu… bukan eksklusif. Itu rutinitas.”
“Justru itu.”
Reno mengerutkan kening.
“Ini… agak filosofis ya.”
“Karena kamu sudah lelah.”
Angin malam berhembus.
Lampu berkedip.
Reno menatap lebih fokus.
Wajah narasumber itu mulai terlihat.
Pelan-pelan.
Sangat pelan.
Dan…
Reno membeku.
“Itu… muka saya.”
Narasumber itu tersenyum.
“Iya.”
“Ini bercanda?”
“Tidak.”
“Ini mimpi?”
“Mungkin.”
“Ini… gimana ceritanya saya wawancara diri sendiri?”
Narasumber itu mengangkat bahu.
“Kamu yang datang ke sini.”
Reno melihat sekeliling.
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya dia.
Dan… dia.
“Jadi… Anda saya?”
“Versi yang lebih jujur.”
“Kenapa muncul di gang gelap?”
“Karena kalau di kantor, kamu terlalu sibuk pura-pura kuat.”
Reno terdiam.
Ini mulai terasa terlalu dalam untuk jam segini.
“Baik… kalau Anda saya, berarti Anda tahu berita yang saya cari?”
“Tahu.”
“Apa itu?”
Narasumber itu mendekat.
“Bahwa kamu butuh tidur.”
Reno menatap kosong.
“Ini… bukan angle yang saya harapkan.”
“Tapi ini yang paling benar.”
Tiba-tiba ponsel Reno bergetar.
Pesan dari editornya:
“Reno, dapat apa? Jangan yang biasa ya. Cari yang unik, misterius, beda dari yang lain.”
Reno menatap layar.
Lalu menatap “dirinya sendiri”.
Lalu kembali ke layar.
Ia menarik napas.
“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau memang ini yang terjadi…”
Ia membuka catatan.
Mulai menulis.
“Seorang wartawan menemukan narasumber misterius di gang gelap. Sosok itu mengetahui segalanya—termasuk kelelahan yang selama ini ia abaikan. Dalam wawancara paling jujur dalam hidupnya, ia menyadari satu hal: berita paling penting bukan yang ia kejar… tapi kondisi dirinya sendiri.”
Ia berhenti.
Menatap narasumber itu.
“Gimana?”
Narasumber itu tersenyum.
“Bagus.”
“Kurang apa?”
“Kurang tidur.”
Reno mengangguk.
“Setuju.”
Paginya, Reno bangun di kursi redaksi.
Laptop masih menyala.
Artikel sudah terkirim.
Judulnya:
“Narasumber Misterius Ternyata Saya Sendiri.”
Bang Darto membaca.
Diam.
Lama.
“Reno…”
“Iya, Bang…”
“Ini… unik.”
“Terima kasih, Bang.”
“Tapi…”
Reno menutup mata.
Ia sudah siap.
“…kurang dikit lagi ya, tambahin dramanya.”
Reno menatap kosong ke depan.
Lalu berbisik pelan:
“Bang… kalau saya tambah lagi… nanti saya wawancara masa depan saya juga.”***
Tulis Komentar