SAKITNYA ITU DI SINI

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

 Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Saat tulisan ini masih di layar tulis, Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan tindakan tangkap tangan di salahsatu kabupaten Provinsi Sumatera Selatan. Mirisnya, sudah empat kepala daerah di kabupaten itu terseret masalah korupsi. Sedih, prihatin, pedih entah apalagi, melihat bangsa ini. Tidak salah jika kita mengelus dada sambil berkata “sakitnya itu di sini”. Mereka tidak belajar dari pengalaman lampau untuk berbuat baik, malah meneruskan dosa masa lampau.

Sakitnya itu di sini,  adalah ungkapan yang sering digunakan untuk menggambarkan luka yang tidak tampak oleh mata, tetapi terasa begitu menghunjam dalam hati. Ungkapan tersebut menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan kondisi bangsa yang sedang menghadapi berbagai persoalan akibat maraknya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran etika dalam penyelenggaraan negara. Rasa sakit yang dimaksud bukan hanya milik individu, melainkan rasa kecewa kolektif yang dirasakan oleh masyarakat ketika harapan akan kehidupan yang lebih baik berulang kali dikhianati oleh mereka yang seharusnya mengemban amanah rakyat.

Bangsa yang besar dibangun di atas fondasi kepercayaan. Kepercayaan masyarakat terhadap negara lahir dari keyakinan bahwa setiap kebijakan dibuat untuk kepentingan umum, setiap anggaran dikelola dengan penuh tanggung jawab, dan setiap pejabat menjalankan tugasnya dengan integritas. Namun, ketika korupsi menjadi berita yang hampir setiap hari terdengar, kepercayaan tersebut perlahan terkikis. Rakyat mulai mempertanyakan ke mana arah pembangunan, siapa yang sebenarnya menikmati hasil kekayaan negara, dan mengapa kesejahteraan yang dijanjikan terasa semakin jauh dari kenyataan.

Korupsi bukan sekadar tindakan mengambil uang negara secara melawan hukum. Dampaknya jauh lebih luas dan merusak. Dana yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, jalan, dan berbagai fasilitas publik akhirnya tidak sampai kepada masyarakat. Akibatnya, kualitas pelayanan publik menurun, pembangunan berjalan lambat, dan kesenjangan sosial semakin melebar. Yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil yang bergantung pada layanan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Ketika seorang anak harus belajar di ruang kelas yang rusak, ketika pasien kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, atau ketika masyarakat harus menghadapi infrastruktur yang tidak memadai, sesungguhnya mereka sedang menanggung akibat dari perilaku tidak bertanggung jawab sebagian penyelenggara negara. Rasa sakit itu hadir dalam bentuk kesempatan yang hilang, harapan yang pupus, dan masa depan yang menjadi tidak pasti. Luka tersebut mungkin tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya dapat dirasakan oleh jutaan orang.

Selain korupsi, pelanggaran etika dalam kehidupan bernegara juga menjadi sumber kekecewaan yang mendalam. Etika merupakan pedoman moral yang seharusnya menjadi dasar setiap tindakan seorang pemimpin dan pejabat publik. Ketika etika diabaikan, kekuasaan cenderung digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Kepentingan rakyat yang semestinya menjadi prioritas justru tersisihkan oleh ambisi, keuntungan politik, dan kepentingan sesaat.

Pelanggaran etika dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, hingga tindakan yang tidak mencerminkan sikap kenegarawanan. Meskipun tidak selalu melanggar hukum, tindakan semacam ini dapat merusak kepercayaan publik. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas dan kompeten, tetapi juga pemimpin yang mampu memberikan teladan dalam kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa.

Ketika rakyat menyaksikan berbagai pelanggaran etika terjadi tanpa adanya rasa malu atau tanggung jawab, muncul perasaan bahwa nilai-nilai keadilan semakin kehilangan tempat dalam kehidupan berbangsa. Rasa sakit itu semakin mendalam ketika hukum terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dapat kehilangan optimisme dan keyakinan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik masih mungkin terjadi.

Akan tetapi rasa sakit tidak seharusnya membuat bangsa ini menyerah. Justru dari rasa sakit itulah kesadaran kolektif dapat tumbuh. Sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari kekecewaan masyarakat terhadap kondisi yang tidak adil. Kesadaran akan pentingnya integritas, transparansi, dan akuntabilitas harus terus diperkuat dalam setiap lapisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harapan akan masa depan bangsa tidak boleh padam hanya karena ulah segelintir orang. Masih banyak individu yang bekerja dengan tulus untuk kepentingan masyarakat dan berusaha menjaga nilai-nilai moral dalam menjalankan tugasnya. Mereka menjadi bukti bahwa integritas masih hidup dan masih memiliki tempat dalam kehidupan bernegara.

Ungkapan "sakitnya itu di sini" menggambarkan luka batin yang dirasakan rakyat ketika amanah yang diberikan kepada para penyelenggara negara disalahgunakan. Rasa sakit itu lahir dari harapan yang dikhianati, dari keadilan yang terasa jauh, dan dari kesejahteraan yang belum sepenuhnya terwujud. Akan tetapi, rasa sakit tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak kejujuran, tanggung jawab, dan keteladanan. Hanya dengan itulah kepercayaan rakyat dapat dipulihkan, dan cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat dapat benar-benar tercapai.

Salam Waras

  

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)