MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
"Sampean ora duwe opo opo, nanging sampean ora butuh opo opo, berarti sampean sugih." Kalimat ini diungkapkan oleh K.H. Bisri Mustofa dalam satu pengajian tasawuf. Hal ini menarik karena ungkapan Jawa ini mengandung kebijaksanaan yang sangat dalam apabila dipahami melalui laku makrifat diri. Kalimat tersebut tidak sedang menjelaskan tentang kekayaan yang diukur oleh banyaknya harta, melainkan tentang kekayaan batin yang lahir dari pengenalan terhadap hakikat diri. Dalam pandangan lahiriah, seseorang dianggap kaya karena memiliki banyak benda, kedudukan, dan kekuasaan. Namun dalam pandangan makrifat, kekayaan sejati justru tampak ketika hati tidak lagi diperbudak oleh keinginan untuk memiliki.
Manusia hadir ke dunia tanpa membawa apapun. Segala sesuatu yang kemudian disebut sebagai milik sesungguhnya hanyalah titipan yang diberikan untuk sementara waktu. Tubuh, nama, keluarga, pekerjaan, harta, bahkan kemampuan yang dibanggakan suatu hari akan ditinggalkan. Tidak ada satu pun yang dapat dibawa ketika perjalanan hidup berakhir. Karena itu, menganggap semua titipan sebagai kepemilikan mutlak hanya akan melahirkan rasa takut kehilangan. Semakin kuat rasa memiliki, semakin besar pula kecemasan yang mengikutinya.
Makrifat mengajak manusia mengenali dirinya sebelum segala identitas dunia melekat. Di balik nama, jabatan, dan segala bentuk pengakuan, terdapat hakikat diri yang tetap sama. Hakikat itulah yang menjadi pusat kesadaran sejati. Ketika seseorang mulai mengenalnya, ia memahami bahwa nilai dirinya tidak pernah ditentukan oleh banyaknya harta ataupun tingginya kedudukan. Kesadaran ini perlahan membebaskan hati dari belenggu keinginan yang tidak pernah selesai.
Tidak membutuhkan apa pun bukan berarti menolak rezeki, meninggalkan usaha, atau mengabaikan tanggung jawab kehidupan. Maknanya adalah hati tidak bergantung kepada sesuatu yang bersifat sementara. Ketika memperoleh kelapangan, ia bersyukur tanpa menjadi sombong. Ketika mengalami kesempitan, ia bersabar tanpa kehilangan ketenteraman. Ia tetap bekerja, berkarya, dan berbuat baik, tetapi semua dilakukan sebagai bentuk pengabdian, bukan sebagai jalan untuk membuktikan nilai dirinya kepada orang lain.
Hati yang merdeka mampu menikmati segala sesuatu tanpa rasa memiliki secara berlebihan. Ia menggunakan dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia. Ia memegang harta, tetapi harta tidak menguasai hatinya. Ia menerima pujian tanpa mabuk kebanggaan dan menerima celaan tanpa tenggelam dalam kekecewaan. Segala keadaan dipandang sebagai bagian dari perjalanan yang terus berubah. Tidak ada yang kekal selain hakikat yang menjadi sumber seluruh kehidupan.
Pandangan makrifat, kemiskinan yang paling berat bukanlah kosongnya tangan, melainkan kosongnya hati dari rasa cukup. Sebaliknya, kekayaan yang paling tinggi bukanlah melimpahnya simpanan, melainkan hadirnya ketenteraman yang tidak bergantung pada keadaan. Orang yang terus mengejar dunia akan selalu merasa kurang meskipun telah memperoleh banyak. Keinginan yang lahir dari hawa nafsu tidak pernah mengenal batas. Satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera muncul menggantikannya. Akibatnya, hidup menjadi perjalanan tanpa ujung untuk mengejar bayangan yang tidak pernah dapat digenggam sepenuhnya.
Rasa cukup lahir ketika manusia menemukan bahwa sumber kebahagiaan tidak berada di luar dirinya. Kebahagiaan tumbuh dari kedalaman batin yang telah mengenal asal dan tujuan hidup. Dari sanalah lahir syukur yang tidak dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya pemberian. Bahkan hembusan napas menjadi nikmat yang jauh lebih besar daripada seluruh kemewahan dunia. Orang seperti ini tidak lagi sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, melainkan merasakan limpahan karunia yang hadir setiap saat dengan penuh kesadaran.
Semakin dalam seseorang mengenal dirinya, semakin tipis rasa keakuan yang membatasi pandangannya. Kesombongan perlahan luruh karena ia sadar bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar dimiliki. Keserakahan memudar karena hati tidak lagi takut kekurangan. Kedengkian menghilang karena tidak ada kebutuhan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Yang tumbuh justru kerendahan hati, kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menerima setiap peristiwa sebagai jalan penyempurnaan batin.
Ungkapan Jawa tersebut akhirnya menjadi cermin perjalanan spiritual yang sederhana tetapi sangat mendalam. "Ora duwe opo opo" mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya tidak memiliki apa pun secara mutlak. "Ora butuh opo opo" menunjukkan hati yang telah merdeka dari ketergantungan terhadap segala sesuatu yang fana. Dari keduanya lahirlah makna "sugih", yaitu kekayaan yang tidak dapat dicuri, tidak dapat habis oleh waktu, dan tidak bergantung pada perubahan keadaan. Kekayaan itu adalah kejernihan hati, kelapangan jiwa, ketenteraman batin, serta kesadaran yang lahir ketika manusia benar-benar mengenal dirinya. Pada keadaan itulah hidup tidak lagi dihabiskan untuk mengejar dunia, melainkan dijalani sebagai amanah dengan penuh syukur, rendah hati, dan keyakinan bahwa segala sesuatu datang sebagai titipan, kemudian kembali kepada asalnya tanpa dapat dibawa oleh siapa pun. Inilah kekayaan sejati, kekayaan yang tidak bergantung pada apa yang dimiliki, tetapi pada kebebasan hati dari rasa membutuhkan selain kepada Yang Maha Ada.
Salam Waras
Tulis Komentar