KESELATI

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ada satu ungkapan dalam bahasa Palembang yang terasa semakin relevan untuk menggambarkan suasana kebatinan masyarakat hari ini: keselati. Sebuah kata yang sederhana, tetapi menyimpan kejengkelan, kekecewaan, kemarahan, dan rasa muak terhadap keadaan yang tak kunjung membaik. Keselati bukan sekadar kesal karena sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan. Ia adalah perasaan ketika akal sehat berulang kali dipaksa menerima kenyataan yang mengecewakan, ketika kesabaran terus diminta, sementara alasan untuk bersabar semakin sulit ditemukan. Dalam satu kata, terkumpul kegundahan orang-orang yang masih peduli, tetapi mulai kehilangan keyakinan bahwa kepedulian mereka sungguh-sungguh dianggap penting.

Keselati terhadap keadaan negeri ini bukan muncul tanpa sebab. Ia tumbuh dari jarak yang semakin terasa antara janji dan kenyataan, antara ucapan dan tindakan, antara kemegahan narasi pembangunan dan kehidupan rakyat yang harus bergulat dengan kebutuhan sehari-hari. Masyarakat mendengar begitu banyak pernyataan tentang kemajuan, kesejahteraan, keadilan, dan masa depan yang cerah. Namun, dalam kehidupan nyata, tidak sedikit yang masih harus berhitung keras untuk memenuhi kebutuhan pokok, mencari pekerjaan yang layak, membayar pendidikan, dan mendapatkan pelayanan yang semestinya menjadi hak mereka. Ketika kenyataan semacam ini terus berulang, wajar jika muncul pertanyaan: kemajuan yang dibanggakan itu sesungguhnya sedang dinikmati oleh siapa?

Yang membuat masyarakat semakin keselati bukan semata-mata banyaknya persoalan, melainkan cara persoalan itu diperlakukan. Masalah yang semestinya diselesaikan terkadang justru ditutupi oleh penjelasan yang berputar-putar. Kritik yang seharusnya menjadi bahan evaluasi malah dipandang sebagai gangguan. Kesalahan yang membutuhkan pertanggungjawaban sering kali tenggelam dalam perdebatan mengenai siapa yang patut disalahkan. Seolah-olah mempertahankan citra jauh lebih penting daripada memperbaiki keadaan. Padahal, rakyat tidak membutuhkan kesempurnaan dari mereka yang diberi amanah. Rakyat hanya menuntut kesungguhan, kejujuran, dan keberanian untuk mengakui bahwa sesuatu memang salah dan harus diperbaiki.

Di sinilah keselati menemukan maknanya yang paling tajam. Ia menjadi reaksi terhadap keadaan ketika kepentingan publik terasa kalah oleh kepentingan kelompok, ketika jabatan lebih menyerupai hak istimewa daripada tanggung jawab, dan ketika kekuasaan seakan-akan menciptakan jarak antara mereka yang memutuskan kebijakan dan mereka yang harus menanggung akibatnya. Rakyat diminta memahami keadaan, tetapi tidak selalu memperoleh penjelasan yang masuk akal. Rakyat diminta berkorban, tetapi tidak selalu melihat pengorbanan yang sepadan dari mereka yang memiliki kewenangan. Ketimpangan semacam inilah yang menggerus kepercayaan, sedikit demi sedikit, hingga kekecewaan tidak lagi cukup diungkapkan dengan keluhan biasa.

Ironisnya, ketidakpuasan masyarakat sering kali diperlakukan seolah-olah merupakan persoalan sikap, bukan persoalan keadaan. Mereka yang mempertanyakan kebijakan dianggap tidak memahami persoalan. Mereka yang menyampaikan kritik dicurigai memiliki kepentingan tertentu. Padahal, tidak semua kritik lahir dari kebencian, sebagaimana tidak semua pujian lahir dari ketulusan. Dalam kehidupan bernegara, kritik justru diperlukan untuk menguji apakah kekuasaan masih berjalan pada jalur yang semestinya. Pemerintahan yang sehat tidak seharusnya takut terhadap pertanyaan, sebab kewenangan publik bukanlah wilayah pribadi yang kebal dari penilaian. Ketika kritik lebih ditakuti daripada kesalahan, sesungguhnya ada sesuatu yang perlu dipertanyakan secara serius.

Namun, keselati juga harus diarahkan secara tepat. Kemarahan yang hanya berputar dalam percakapan, menjadi umpatan di media sosial, atau berhenti sebagai keluhan di meja kopi tidak akan dengan sendirinya mengubah keadaan. Bahkan, kemarahan yang tidak disertai kejernihan dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian dan mengaburkan persoalan yang sesungguhnya. Masyarakat perlu menjaga daya kritisnya, memeriksa informasi, menuntut pertanggungjawaban berdasarkan fakta, dan tidak membiarkan perbedaan pilihan memecah solidaritas terhadap persoalan bersama. Kekecewaan harus menjadi tenaga untuk mengawasi, bukan alasan untuk kehilangan akal sehat.

Pada saat yang sama, mereka yang memegang kekuasaan tidak pantas menjawab kegelisahan publik hanya dengan meminta masyarakat bersabar. Kesabaran bukan cek kosong yang dapat digunakan untuk membenarkan kegagalan berulang. Kepercayaan juga bukan warisan yang akan bertahan selamanya tanpa dirawat. Keduanya hanya tumbuh ketika masyarakat melihat bukti bahwa amanah dijalankan, hukum ditegakkan secara adil, anggaran digunakan secara bertanggung jawab, dan kebijakan benar-benar mempertimbangkan kehidupan orang banyak. Jika janji terus diproduksi sementara persoalan mendasar dibiarkan, jangan heran apabila kata keselati semakin sering terdengar.

Keselati sesungguhnya adalah peringatan. Di balik kejengkelan itu terdapat harapan yang sedang terdesak, kepercayaan yang sedang diuji, dan kepedulian yang mulai kehabisan kesabaran. Negeri ini tidak membutuhkan lebih banyak kata-kata yang memukau untuk menutupi kenyataan. Yang dibutuhkan adalah keberanian menghadapi fakta, kerendahan hati menerima kritik, dan tindakan nyata yang dapat diukur manfaatnya oleh masyarakat. Jangan sampai keselati dianggap sekadar ungkapan khas daerah yang lucu didengar, padahal di dalamnya tersimpan gugatan yang serius terhadap cara negeri ini dikelola. Sebab, ketika rakyat terus-menerus dibuat kecewa, persoalannya bukan lagi sekadar rakyat yang terlalu banyak mengeluh, melainkan apakah para pemegang amanah masih cukup peka untuk memahami mengapa keluhan itu tidak kunjung berhenti. Dan jika pertanyaan sederhana tersebut saja tidak sanggup dijawab melalui tindakan nyata, maka keselati bukan lagi sekadar ekspresi kejengkelan, melainkan cermin retaknya kepercayaan antara rakyat dan kekuasaan.

Salam Waras


Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)