KETIKA LIDAH KEKUASAAN TERGELINCIR, LUKA SUNYI DIHATI PARA GURU

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Pidato seorang pemimpin selalu memiliki daya yang lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Ia bukan hanya suara yang menggema dari podium, melainkan penanda arah harapan jutaan orang. Karena itu, setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang pemimpin sesungguhnya membawa konsekuensi moral, sosial, bahkan psikologis. Ketika sebuah ucapan meleset, terlebih menyangkut nasib rakyat kecil, luka yang ditinggalkan tidak berhenti pada kesalahan teknis semata. Ia dapat berubah menjadi rasa kecewa yang dalam, rasa dikhianati, bahkan hilangnya kepercayaan.

Belakangan ini publik dibuat gaduh oleh sebuah pidato singkat pimpinan tertinggi negeri ini, yang memunculkan harapan besar bagi para guru. Dalam pidato tersebut, sang pemimpin sempat menyampaikan bahwa kenaikan gaji hingga ratusan persen diberikan kepada guru. Kalimat itu langsung menyebar cepat, membakar semangat dan harapan jutaan tenaga pendidik yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Namun beberapa saat kemudian, ucapan itu diralat. Ternyata yang dimaksud bukan guru, melainkan profesi lain dalam lembaga hukum negara.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya salah ucap biasa. Hal yang manusiawi. Namun bagi para guru, kesalahan itu terasa jauh lebih menyakitkan. Sebab harapan yang terlanjur dibangunkan mendadak dijatuhkan kembali ke tanah kenyataan.

Guru di negeri ini sudah terlalu lama hidup dalam paradoks. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi sering diperlakukan tanpa penghargaan yang layak. Mereka diminta mencetak generasi unggul, tetapi banyak yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Di ruang kelas, mereka mengajarkan cita-cita besar kepada anak-anak bangsa, sementara di rumah mereka harus menghitung pengeluaran dengan cemas setiap akhir bulan.

Karena itulah janji kesejahteraan selalu terdengar sangat berarti bagi para guru. Dalam masa kampanye, publik mendengar berbagai komitmen tentang peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satu yang paling membekas adalah janji tambahan penghasilan yang dianggap mampu memberi sedikit napas bagi kehidupan para guru. Janji itu hidup dalam ingatan kolektif karena lahir di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat.

Maka ketika pidato itu terdengar menyebut kenaikan fantastis bagi guru, banyak hati yang seketika berbunga. Barangkali ada yang diam-diam mulai membayangkan bisa melunasi utang. Ada yang berharap dapat memperbaiki rumah. Ada pula yang membayangkan akhirnya mampu menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi tanpa rasa khawatir berlebihan. Namun harapan itu ternyata hanya berlangsung beberapa detik.


Kesalahan ucapan dari seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendiri. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kekuasaan memandang penting atau tidaknya sebuah persoalan. Ketika isu kesejahteraan guru bisa terlontar secara keliru lalu diralat begitu saja, publik menangkap kesan bahwa nasib para pendidik belum benar-benar menjadi perhatian utama.

Lebih menyakitkan lagi, koreksi itu seolah menegaskan hierarki penghargaan dalam negeri ini. Bahwa ada profesi yang dianggap lebih mendesak untuk disejahterakan dibanding mereka yang setiap hari membangun fondasi moral dan intelektual bangsa. Padahal semua orang tahu, tidak ada hakim, pejabat, pengusaha, ilmuwan, ataupun pemimpin yang lahir tanpa sentuhan seorang guru. Dari tangan merekalah manusia belajar membaca, memahami dunia, dan mengenal nilai kehidupan. Guru adalah akar yang bekerja dalam diam. Mereka mungkin tidak selalu tampil di layar televisi atau mendapatkan sorotan megah, tetapi mereka memegang peranan paling mendasar dalam perjalanan sebuah bangsa.

Sayangnya, negeri ini sering kali hanya pandai memuliakan guru dalam slogan. Setiap Hari Pendidikan, pidato-pidato indah kembali dibacakan. Kata-kata seperti “ujung tombak bangsa” dan “penentu masa depan negara” kembali diulang. Namun setelah seremoni selesai, banyak guru tetap harus menjalani hidup yang jauh dari kata sejahtera.

Makin ironis lagi adalah cara komunikasi para elite yang kerap tidak hati-hati. Dalam era digital, satu kalimat dapat menyebar dalam hitungan detik dan membentuk persepsi publik secara masif. Karena itu seorang pemimpin seharusnya memahami bahwa berbicara di depan rakyat bukan sekadar soal spontanitas atau gaya komunikasi. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan setiap ucapan akurat, jelas, dan tidak melukai harapan masyarakat.

Pidato tanpa teks mungkin dianggap lebih natural dan menunjukkan kedekatan emosional. Namun jika tidak disertai ketelitian, spontanitas justru dapat berubah menjadi bumerang. Kesalahan kecil dari rakyat biasa mungkin hanya berdampak pada lingkaran terbatas. Tetapi kesalahan kecil dari seorang pemimpin bisa mengguncang jutaan hati sekaligus.

Peristiwa ini semestinya menjadi pelajaran penting bahwa empati harus hadir dalam setiap komunikasi kekuasaan. Rakyat bukan sekadar audiens yang bisa diberi janji lalu diminta memahami setiap kekeliruan. Mereka adalah manusia yang menggantungkan harapan pada kata-kata pemimpinnya.

Para guru mungkin tidak turun ke jalan dengan kemarahan besar. Mereka terbiasa memendam kecewa dalam diam. Namun diamnya guru sering kali jauh lebih menyedihkan daripada teriakan protes. Sebab di balik senyum mereka di depan murid-murid, ada rasa lelah yang terus dipikul sendirian.

Negeri yang besar bukan hanya ditentukan oleh megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ia juga ditentukan oleh cara negara menghargai para pendidiknya. Ketika guru terus dikecewakan, sesungguhnya yang sedang dilukai bukan hanya profesi tertentu, melainkan masa depan bangsa itu sendiri. Dan luka akibat harapan yang dipatahkan sering kali lebih sulit sembuh dibanding kemiskinan itu sendiri.     Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)