MITRA TV LAMPUNG. COM
(Singgah Sebentar Untuk Minum)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Orang Jawa mengenal sebuah ungkapan yang sederhana namun sarat makna: hidup hanyalah mampir ngombe. Manusia diibaratkan seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan panjang. Ia singgah sejenak untuk meneguk air, menghilangkan dahaga, lalu melanjutkan langkah menuju tujuan yang lebih jauh. Dalam pandangan ini, dunia bukanlah tempat menetap, melainkan sekadar persinggahan. Waktu yang diberikan kepada manusia hanyalah jeda pendek di antara dua misteri: dari mana ia datang dan ke mana ia akan kembali.
Anehnya, justru dalam waktu yang begitu singkat manusia sering bertindak seolah-olah ia akan tinggal selamanya. Ia menghabiskan hidup untuk mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, mencari pengakuan, dan mempertahankan segala sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Musafir yang seharusnya cukup berhenti untuk minum justru sibuk mengangkut seluruh isi warung ke dalam gendongannya.
Dari sinilah banyak kegelisahan bermula. Manusia meyakini bahwa kebahagiaan berada pada sesuatu yang belum dimilikinya. Ketika belum memiliki harta, ia menganggap harta sebagai jalan menuju ketenteraman. Setelah memperoleh harta, ia mengejar kedudukan. Setelah mendapatkan kedudukan, ia menginginkan penghormatan. Setelah memperoleh penghormatan, lahir lagi keinginan-keinginan baru yang tidak pernah selesai. Hidup berubah menjadi pengejaran yang tanpa akhir.
Ajaran kebijaksanaan Jawa dikenal pemahaman bahwa keinginan memiliki sifat mulur lan mungkret. Ketika belum tercapai, ia terasa besar dan mendesak. Namun setelah tercapai, rasa puas hanya bertahan sesaat sebelum muncul keinginan lain yang lebih besar. Karena itu banyak orang memiliki lebih banyak daripada yang mereka impikan dahulu, tetapi tetap merasa kurang. Yang bertambah hanyalah kepemilikannya, bukan ketenteraman batinnya.
Persoalannya bukan pada harta, jabatan, atau kenikmatan dunia. Semua itu adalah bagian alami dari kehidupan. Yang menjadi masalah adalah ketika manusia menggantungkan kebahagiaannya sepenuhnya pada hal-hal tersebut. Ketika harga diri ditentukan oleh pujian, maka celaan akan terasa menghancurkan. Ketika makna hidup ditentukan oleh kedudukan, maka kehilangan jabatan akan terasa seperti kehilangan diri sendiri. Semakin kuat keterikatan, semakin besar pula ketakutan yang lahir darinya.
Padahal segala sesuatu yang ada di dunia sedang bergerak menuju perubahan. Tubuh yang kuat akan menua. Wajah yang rupawan akan memudar. Kekayaan dapat berpindah tangan. Jabatan akan berganti pemilik. Bahkan nama yang pernah diagungkan suatu hari hanya akan menjadi jejak samar dalam ingatan manusia. Tidak ada yang benar-benar menetap selain perubahan itu sendiri.
Kesadaran akan kenyataan tersebut bukanlah ajakan untuk menjauhi dunia. Justru sebaliknya, ia mengajarkan cara hidup yang lebih jernih. Seorang musafir tetap membutuhkan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ia tetap bekerja, berkarya, mencintai, dan menjalankan tanggung jawabnya. Namun ia tidak menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir. Ia menggunakan dunia tanpa diperbudak oleh dunia.
Di sinilah pentingnya mengenali rasa. Banyak orang memahami keadaan di luar dirinya, tetapi tidak memahami apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Ia mengetahui siapa yang mengaguminya dan siapa yang membencinya, tetapi tidak mengerti mengapa ia begitu haus akan pengakuan. Ia mampu melihat kesalahan orang lain, tetapi gagal mengenali kesombongan yang bersembunyi dalam dirinya. Akibatnya, ia mudah dikendalikan oleh kemarahan, iri hati, ketakutan, dan berbagai keinginan yang tidak pernah diperiksanya.
Padahal sebagian besar penderitaan manusia tidak lahir dari kenyataan itu sendiri, melainkan dari keterikatannya pada kenyataan. Ia menderita bukan semata-mata karena kehilangan, melainkan karena keyakinan bahwa sesuatu harus selalu menjadi miliknya. Ia kecewa bukan hanya karena keadaan tidak sesuai harapan, melainkan karena ia memaksa kehidupan mengikuti kehendaknya.
Ketika seseorang mulai mengenali gerak rasa dalam dirinya, ia akan memahami bahwa kebebasan bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Kebebasan adalah kemampuan untuk memiliki tanpa dimiliki. Menikmati tanpa melekat. Menggunakan tanpa diperbudak. Pada titik itu kebahagiaan tidak lagi bergantung pada banyaknya yang digenggam, melainkan pada ringannya hati saat menjalaninya.
Musafir yang bijaksana memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Karena itu ia tidak mabuk ketika memperoleh keberuntungan dan tidak hancur ketika menghadapi kehilangan. Ia bersyukur atas apa yang datang dan ikhlas terhadap apa yang pergi. Ia sadar bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk hadir dan meninggalkan kehidupan.
Oleh karena itu hidup bukanlah tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan selama persinggahan ini. Hidup adalah tentang seberapa dalam seseorang memahami hakikat perjalanannya. Sebab ketika tiba saatnya melanjutkan langkah, tidak ada harta, kedudukan, atau pujian yang dapat dibawa. Yang tersisa hanyalah kesadaran tentang bagaimana kehidupan telah dijalani.
Kebijaksanaan terbesar bukanlah menambah beban, melainkan menguranginya. Bukan memperluas genggaman, melainkan melapangkan hati. Sebab musafir yang paling beruntung bukanlah yang membawa paling banyak, melainkan yang mampu berjalan paling ringan ketika tiba waktunya meninggalkan tempat persinggahan yang bernama dunia.
Salam Mampir Ngombe
Tulis Komentar